Langsung ke konten utama

Arti Keadilan

 


Islam meletakkan banyak pondasi demi menguatkan hubungan sesama manusia, menertibkan, dan menjamin setiap individu/kelompok mendapatkan hak masing-masing sepenuhnya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pihak manapun. Baik itu di sektor kerja maupun muamalah kehidupan sehari-hari. Islam meletakkan sejumlah nilai, norma, dan prinsip terpuji berharga mulia untuk membantu manusia menyelesaikan urusan sesama mereka, dengan tetap menjaga rasa belas kasih, sayang, dan cinta. Dari sisi inilah berangkat pemahaman kita tentang keadilan dalam agama Islam.

Keadilan tidaklah dibatasi pada masalah tertentu saja, akan tetapi menjangkau banyak pintu. Sedangkan dasar dari keadilan ini ialah keadilan rabbani yang bersumber dari Tuhan. Tanpa keadilan ini sebuah bangsa tidak akan mampu berdiri tegak dan berjaya.

Arti Etimologi Keadilan

Keadilan ialah mengambil kebijakan tengah antara dua hal, melebih-lebihkan (al-ifrath) dan bermudah-mudahan (at-tafrith). Adil antonim/lawan kata lalim dan zalim, yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Adil di depan dua orang yang berseteru, ialah menengahi dan memperlakukan sama, tidak menzalimi, dan memberikan hak bagi tiap keduanya [1]. Dalam kamus Mu'jam Al-Arab: Adil ialah kebenaran yang muncul dari dalam lubuk hati, lawan dari zalim [2].

Arti Terminologi Keadilan

Adil ialah sifat yang dimiliki oleh Allah Ta'ala, Dia pun menamakan diriNya dengan Yang Maha Adil (Al-Hakim & Al-Adil) [3]. Dalam kitab Tahdzib Al-Kamal, adil ialah "meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, waktunya, arahnya, kadarnya, tanpa melewati batasan, pengurangan, pemajuan atau pengakhiran" [4]. Keadilan dalam bersosial (al-'adalah) ialah naluri yang membawa pemiliknya menuju keutamaan (al-fadhail), lurus (al-istiqomah), moderat (at-tawasuth) antara dua hal  melebih-lebihkan (al-ifrath) dan bermudah-mudahan (at-tafrith), tanpa pilih kasih atau berpihak. Keadilan ialah tetap lurus pada jalan yang benar dengan menjauhi larangan agama [5]. Keadilan ialah memberikan kewajiban yang diembankan kepada diri sendiri dan mengambilnya (untuk dilaksanakan) [6][7], itulah arti keadilan.

Keadilan Dalam Islam

Diantara kemuliaan & kedermawanan Allah kepada manusia ialah mengatur tatacara berinteraksi & berhubungan yang baik antar sesama mereka, menyempurnakan kebajikan, akhlak, dan hukum pada setiap aspek kehidupan, menjamin kesetaraan hak dan kewajiban. Maka keadilan menjadi neraca yang mengharuskan semua manusia memenuhi kewajiban, memperoleh hak tanpa melampaui batas, berlebih-lebihan atau menggampangkan. Allah Ta'ala menjunjung tinggi nilai keadilan, menjadikan keadilan salah satu namaNya. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sungguh Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (Dia) memberi nasehat kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)

Diriwayatkan oleh Sa'id dari Qotadah, tentang firman Allah Ta'ala إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ yang artinya "Sungguh Allah menyuruh kalian berlaku adil dan berbuat kebajikan": Dulu, setiap ada akhlak terpuji yang dijalankan oleh masyarakat jahiliyah dan mereka benarkan perbuatan itu, Allah juga membenarkannya. Setiap ada akhlak tercela yang dijalankan oleh masyarakat jahiliyah dan mereka anggap itu ialah perbuatan buruk dan 'aib, maka Allah melarangnya, Dia Allah hanya melarang akhlak tercela dan perbuatan buruk [8]. Dalam ayat ini Allah menyuruh hambaNya berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, karena maksud ditegakkannya syariat ialah menegakkan keadilan diantara manusia [8][9].

Ciri Keadilan Islam

Diantara ciri keadilan dalam Islam ialah tidak diikutsertakan di dalamnya simpati perasaan (baper), maka keadilan Islam tidak boleh dipengaruhi oleh harta, kebangsaan, nasab dan kedudukan. Telah jelas dicontohkan dalam sejarah yang menjelaskan kejujuran dan kemerataannya.

Seperti yang terjadi pada kasus wanita Al-Makhzumiyah yang telah mencuri pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam Sahih Bukhari diceritakan bahwa ada seorang wanita yang mencuri pada saat kejadian perang Al-Fath. Kaumnya takut wanita ini mendapatkan hukuman dan meminta bantuan kepada sahabat Usamah bin Zaid supaya memintakan syafaat (keringanan) kepada Rasulullah. Maka ketika Usamah melapor, memerahlah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Apa kau mengajak bicara (menawar) aku akan hudud Allah?" Usamah menjawab, "Mohonkanlah ampunan kepadaku Hai Rasul Allah".

Kemudian saat waktu Isya' Rasulullah berdiri berkhutbah, dimulai dengan memuji Allah dan keluarganya lalu berkata, "Amma ba'du, sungguh telah dihancurkan kaum-kaum sebelum kalian karena ketika ada orang yang bermartabat mencuri, dia ditinggalkan (hukumannya). Dan ketika ada orang lemah yang mencuri dia dihukum had. Demi zat yang Muhammad ada di tanganNya, jika saja Fatimah anak Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya".

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh supaya tangan wanita itu dipotong tangannya, maka dipotonglah tangannya. Wanita ini pun baik taubatnya setelah itu dan tak lama kemudian menikah. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Setelah kejadian itu dia (wanita dari Al-Makhzumiyah) (tetap mau) mendatangi Rasulullah menanyakan yang ia butuhkan" (HR. Bukhary no. 4303)

Diantara ciri keadilan dalam Islam: Allah mengangkat tinggi derajat orang yang adil di sisiNya, mendapatkan kehormatan di sisiNya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

"Sungguh orang-orang yang adil di sisi Allah akan ditempatkan di atas mimbar-mimbar dari cahaya, berada di samping kanan sang Maha Pengasih. Kedua tangannya diberkahi, yang telah berbuat adil dalam berhukum, bagi keluarganya, dan atas kedudukan (yang dia jabat)". (HR. Muslim no. 1827)

Bagi orang-orang yang adil dalam mengambil keputusan hukum, termasuk bagi keluarga sendiri, maka Allah akan menjadikannya termasuk orang yang dekat denganNya, terhormat di sisiNya. Allah akan mengangkatnya di atas mimbar-mimbar dari cahaya karena keadilannya, yaitu sebuah tempat di surga, tempat yang tinggi dan mahal, terpuji dan khusus hanya bagi sekelompok hambaNya yang selalu berusaha berlaku adil atas tanggung jawab dan jabatan yang dimilikinya [9].

Referensi:

[1] Makna Al-Adl. Mu'jam Al-Ma'ani.

[2] Tafsir kata Adl العدل. Lisan Al-Arab.

[3] Al-Adl wal Musawat. Manaratul Islam.

[4] Al-Jahidz. Tahdzibul Akhlak. Halaman 28.

[5] 'Ali Al-Jarjany. At-Ta'rifat. Halaman 147.

[6] 'Ali Ibnu Hazm. Al-Akhlak Wassiyar. Halaman 81.

[7] Al-Akhlak Al-Islamiyah: Al-'Adl. Website DR. Ahmad Kalhi: Mausu'atul Akhlak Al-Islamiyah. 18-11-2012 M.

[8] Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Halaman 277.

[9] Muhammad Al-Khadr Husain. Al-Qodho' Al-Adil Fil Islam. Addurar Assunniyah.

Diterjemahkan dan diisusun di Universitas Islam Madinah, Kerajaan Arab Saudi
Selasa, 3 Syawal 1441 H (26 Mei 2020 M)

Oleh: Iskandar Alukal, B.A., M.A.

Artikel hukumpolitiksyariah.com

arti keadilan makna keadilan arti adil makna adil terminologi adil ta'rif adil maksud 'adalah kewajiban berlaku adil dalil keadilan ayat adil hadis adil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemuliaan Kota Makkah

  Kota Makkah Al Mukarramah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan tempat terbaik di muka bumi, negeri yang paling dicintai Allah s.w.t. Makkah tempat kelahiran Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tumbuh besar di sana hingga dewasa. Di kota ini turun wahyu pertama kepada sang Nabi melalui perantara malaikat Jibril kepadanya di Gua Hira. Cahaya Islam-pun bermula terpancar dari Makkah Al Mukarramah, lalu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah s.w.t. berfirman, وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَاۚ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ وَهُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ يُحَافِظُونَ “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luarnya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat t...

Bolehkah Pegawai Menerima Hadiah dari Klien?

  Penjelasan Hadis Ghulul Ghulul ( الغُلُوْلُ ) dalam artian khusus bermakna: “Mengambil harta rampasan perang (ghanimah) secara tersembunyi sebelum waktu pembagiannya”, dapat pula diartikan secara umum, ghulul ialah: “Perbuatan khianat pada urusan harta”. Memberi hadiah kepada pegawai yang bekerja pada instansi negara maupun swasta juga termasuk ghulul, jika hadiah tersebut diberikan atas dasar jabatan yang pegawai emban, bukan hadiah yang diberikan atas dasar hubungan status kekeluargaan, persahabatan atau hubungan kedekatan lainnya. [1] Syeikh Salih bin Fauzan rahimahullah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, هَدَايَا الْعمَّال غلُول “Hadiah para pegawai ialah ghulul” (HR. Ahmad) Ia menjawab: “Iya, hadiah ini termasuk suap, maksud dari ( العُمَّال ) ialah pegawai yang bekerja (pada sebuah tempat). Maka tidak boleh dia menerima hadiah dari klien/nasabah/pengunjung atau siapapun yang memiliki urusan, termasuk pula bagi mereka yang bertugas mengumpul...

Keutamaan Kota Madinah

  Kota Madinah Al Munawwarah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan ibu kota pertama pilihan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat Islam. Kota ini merupakan tempat turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, turunnya malaikat Jibril kepadanya, kekhalifahan pertama berdiri, bertemunya kaum Muhajirin dan Anshar, jihad pertama ditegakkan, sumber teresbarnya cahaya hidayah, rumah hijrah Nabi beserta para sahabatnya, di sanalah beliau hidup hingga akhir hayatnya, di sanalah beliau dikubur dan akan dibangkitkan kembali shallallahu ‘alaihi wasallam . Kota Madinah dianugerahi keutamaan dan kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan berbagai kekhususan, diantaranya: 1.       Madinah Tempat Terbaik di Muka Bumi setelah Mekah. Kota Madinah yang diberkahi dan dimuliakan oleh Allah ini merupakan termpat terbaik setelah Kota Mekah, sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diusir oleh kaum kafir Quraisy ...