Terdapat banyak riwayat yang menyebutkan di mana tempat shalat dua ‘Id Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى
فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam (senantiasa) keluar menuju musala (tempat
lapang untuk shalat) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, maka pertama kali yang
beliau lakukan adalah shalat” (HR Bukhari no. 956)
Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani rahimahullah menyatakan dalam
kitab Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari,
وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى اسْتِحْبَابِ
الْخُرُوجِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِصَلَاةِ الْعِيدِ وَأَنَّ ذَلِكَ أَفْضَلُ مِنْ
صَلَاتِهَا فِي الْمَسْجِدِ، لِمُوَاظَبَةِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ - عَلَى ذَلِكَ مَعَ فَضْلِ مَسْجِدِهِ
“Hadits ini dijadikan sebagai argumentasi dianjurkannya
keluar menuju shahra’ (tanah lapang/padang pasir) untuk melaksanakan
shalat ‘Id dan bahwa itu lebih utama daripada melaksanakannya di masjid; karena
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam senantiasa melaksanakannya
di tanah lapang, padahal keutamaan (shalat) di dalam masjid beliau shallallahu’alaihi
wasallam (sangat besar)”
Imam An Nawawi rahimahullah di dalam kitab Al Majmu' Syarah
Muhadzhab Syarah Shahih Muslim menyatakan,
هذا دليل لمن قال باستحباب الخروج
لصلاة العيد إلى المصلى، وأنه أفضل من فعلها في المسجد، وعلى هذا عمل الناس في
معظم الأمصار
“(Hadits) ini
merupakan dalil bagi (ulama) yang berpendapat dianjurkannya keluar menuju tanah
lapang untuk melaksanakan shalat ‘Id. Dan sungguh pelaksanaannya di tanah
lapang lebih utama daripada pelaksanaannya di masjid. Pendapat inilah yang
diamalkan oleh kaum muslimin di hampir semua negeri.”
Pandangan Para Ulama Berbagai Madzhab.
1.
Imam
Malik bin Anas.
وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يُصَلَّى فِي
الْعِيدَيْنِ فِي مَوْضِعَيْنِ وَلَا يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِهِمْ، وَلَكِنْ
يَخْرُجُونَ كَمَا خَرَجَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ... ثُمَّ
اسْتَنَّ بِذَلِكَ أَهْلُ الْأَمْصَارِ
Imam Malik berkata: “Tidaklah dilaksanakan dua shalat
‘Id (Idul Fithri dan Idul Adha) di dua tempat, tidak pula di masjid mereka,
akan tetapi kaum muslimin hendaknya keluar (ke tanah lapang) sebagaimana
dulunya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (senantiasa)
keluar (ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ‘Id) … Kemudian sunnah/teladan
ini dipraktikkan oleh kaum muslimin di seluruh negeri.” [1]
2.
Imam
As Syafi’i.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) - رَحِمَهُ اللَّهُ
تَعَالَى - بَلَغَنَا «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
- كَانَ يَخْرُجُ فِي الْعِيدَيْنِ إلَى الْمُصَلَّى بِالْمَدِينَةِ» وَكَذَلِكَ
مَنْ كَانَ بَعْدَهُ، وَعَامَّةُ أَهْلِ الْبُلْدَانِ
Imam As Syafi’i rahimahullah berkata: “Telah
sampai kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (senantiasa)
keluar menuju musala (tanah lapang tempat shalat) di Madinah untuk melaksanakan
dua shalat ‘Id. Demikian pula mereka yang setelahnya (para sahabat Nabi) dan mayoritas
penduduk negeri.” [2]
3.
Imam
Ibnu Qudamah Al Hanbali.
السُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِيدَ
فِي الْمُصَلَّى، أَمَرَ بِذَلِكَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -
وَاسْتَحْسَنَهُ الْأَوْزَاعِيُّ، وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ. وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ
الْمُنْذِرِ
Beliau berkata: “Yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam adalah melaksanakan shalat ‘Id di musala (tanah lapang untuk
shalat). Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu memerintahkannya.
(Imam) Al Auza’i dan para Ahli Ra’yu menganjurkannya, dan ini adalah
pendapat (Imam) Ibnul Mundzir.”
وَلَنَا أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْمُصَلَّى وَيَدَعُ
مَسْجِدَهُ، وَكَذَلِكَ الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ
“Dan bagi kami, bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi
wasallam (selalu) keluar (shalat ‘Id) menuju musala (tanah lapang
untuk shalat) dan meninggalkan Masjidnya (Masjid Nabawi), demikian pula
para khalifah setelah beliau.” [3]
4.
Ibnu
Al Hajj Al Maliki.
وَالسُّنَّةُ الْمَاضِيَةُ فِي
صَلَاةِ الْعِيدَيْنِ أَنْ تَكُونَ فِي الْمُصَلَّى لِأَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ
أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ ثُمَّ مَعَ هَذِهِ
الْفَضِيلَةِ الْعَظِيمَةِ خَرَجَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إلَى
الْمُصَلَّى وَتَرَكَهُ
Sunnah (suri tauladan) yang telah berlangsung dalam
pelaksanaan shalat dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah di musala
(tanah lapang tempat shalat); karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih utama seeribu kali dari pada shalat di
selainnya, kecuali masjidil haram.”Kendati terdapat keutamaan besari ini, Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam tetap keluar (shalat Id) di musala dan meninggalkan
masjidnya.” [4]
Memang demikianlah, pelaksanaan shalat Idul Fithri &
Idul Adha lebih utama di tanah lapang. Untuk perbandingan, sebagaimana Nabi selalu
duduk di antara khutbah pertama dan kedua hari Jum’at, kita pun selalu ittiba',
mengikutinya dalam khutbah Jum’at. Demikianlah memang seharusnya, kita
mengikuti suri taudalan Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana
firman Allah subhanahu wa ta'ala,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْأَاخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang
banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Referensi:
[1] Malik bin Anas (w: 179 H). Al Mudawwanah. Darul Kutub Al
Ilmiah. 1415 H – 1994 M. 1/248.
[2] Muhammad bin Idris As Syafi’I (w: 204
H). Al Umm. Darul Ma’rifah. Beirut. 1410 H – 1990 M. 1/267.
[3] Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (w: 620). Al
Mughni. Maktabatul Qahirah. Mesir. 1388 H – 1968 M. 2/275.
[4] Muhammad bin Muhammad ibnul Hajj. Al
Madkhal. Darul Turats. 2/283.
Diterjemahkan, disusun & diringkas dari:
Di Singosari, Malang, Jawa timur, Indonesia
Rabu 20 Dzulqa’dah 1442 H (30 Juni 2021 M)
Oleh: Ust. Ery Santika Adirasa. S.ST.
Editor: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.

Komentar
Posting Komentar