Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ialah makhluk
terbaik di sisi Allah, sosok yang begitu dimuliakan, suri tauladan kaum
muslimin, pengubah wajah dunia dari peradaban gelap jahiliyah menuju cahaya
ilmu yang terang benderang. Ia begitu peduli dan sayang kepada umatnya. Allah
ta’ala berfirman,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ
رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang
mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا
وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ
وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
(9)
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu (Muhammad) sebagai
saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (8). Supaya kamu sekalian
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan
bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (9). (QS. Al Fath: 8-9)
Menjaga kehormatan serta menjunjung tinggi martabat Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan kewajiban setiap muslim.
Melukai fisik atau perasaan Sang Nabi, baik ketika beliau masih hidup ataupun
telah wafat, haram hukumnya & merupakan dosa yang sangat besar, pelakunya
disiksa dengan siksaan pedih, bahkan dilaknat oleh Allah di dunia dan di
akhirat, Allah ta’ala berfirman dalam Al Quran,
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ
عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan
Rasul-Nya[1]. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan
baginya siksa yang menghinakan (57). Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang
yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya
mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata (58). (QS. Al Ahzab: 57-58)
Hukuman di Dunia Bagi Pelaku Pencela Nabi
Hukuman di dunia bagi pelaku pencela Nabi telah disebutkan
secara jelas dan gamblang oleh para ulama, yaitu dibunuh (oleh pihak yang
berwajib), Al Qodhi Iyadh berkata:
مَنْ سَبَّ النَّبِيَّ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَوْ عَابَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا فِي
نَفْسِهِ أَوْ نَسَبِهِ أَوْ دِينِهِ أَوْ خَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِهِ، أَوْ عَرَّضَ
بِهِ أَوْ شَبَّهَهُ بِشَيْءٍ عَلَى طَرِيقِ السَّبِّ وَالِازْدِرَاءِ عَلَيْهِ،
أَوْ النَّقْصِ لِشَأْنِهِ أَوْ الْغَضِّ مِنْهُ وَالْعَيْبِ لَهُ فَهُوَ سَابٌّ
تَلْوِيحًا كَانَ أَوْ تَصْرِيحًا، وَكَذَلِكَ مَنْ لَعَنْهُ أَوْ ادَّعَى
عَلَيْهِ أَوْ تَمَنَّى مَضَرَّةً لَهُ، أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ
بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ، أَوْ عَبِثَ فِي جِهَتِهِ الْعَزِيزَةِ
بِسُخْفٍ مِنْ الْكَلَامِ أَوْ بِشَيْءٍ مِمَّا جَرَى مِنْ الْبَلَاءِ
وَالْمِحْنَةِ عَلَيْهِ، أَوْ غَمَّضَهُ شَيْءٌ مِنْ الْعَوَارِضِ الْبَشَرِيَّةِ الْجَائِزَةِ
وَالْمَعْهُودَةِ لَدَيْهِ قُتِلَ، قَالَ: وَهَذَا كُلُّهُ إجْمَاعٌ مِنْ
الْعُلَمَاءِ وَأَئِمَّةِ الْفَتْوَى مِنْ لَدُنْ الصَّحَابَةِ - رِضْوَانُ
اللَّهِ عَلَيْهِمْ - إلَى هَلُمَّ جَرَّا.
“Siapa yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mencelanya,
menambahkan kecacatan pada nasabnya, dirinya, agamanya, salah satu sifatnya,
memunculkan syubhat (hal yang menimbulkan keraguan pada kaum muslimin
tentangnya) dalam bentuk hinaan, merendahkan, menurunkan kedudukannya atau
menundukkannya dengan ‘aib, berbentuk isyarat ataupun lantang, termasuk juga
yang melaknatnya, menuduhnya, mengharapkan keburukan baginya, menyematkan
kepadanya hal yang tak pantas bagi kedudukannya dalam bentuk celaan, atau
bermain-main terhadap martabatnya yang mulia dalam bentuk ucapan yang tak masuk
akal, berupa ujian menghinakan terhadapnya, atau menutupi sifat manusiawi yang
diperbolehkan ada melekat padanya, maka (hukuman bagi dia ialah) dibunuh.” Dia
(Al Qadhi) berkata: “Ini semua dikonsensus (ijma’) oleh para ulama dan
imam-imam fatwa dari kalangan sahabat (Nabi) hingga saat ini.” [2]
Umat Islam telah berkonsensus/bersepakat (ijma’) atas
siapa saja dari kaum muslimin yang merendahkan Nabi atau para Nabi, maka dia
wajib dibunuh atau diperangi. Dia dianggap telah murtad, keluar dari
agama Islam, baik jika ia menghalalkan perbuatan itu (tanpa melakukan) ataupun
langsung melakukannya dengan sengaja. Para ulama tidak berselisih pendapat akan
hal ini, banyak sekali ulama besar yang menukil akan konsensus ini, diantaranya
Al Laits, Al Auza’iy, Ishaq bin Rohawaih, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As
Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mundzir, Sahnun, dan yang lainnya. Begitu
pula bagi kafir yang secara jelas menghina Nabi, terlebih jika ia menunjukkan
rasa kebenciannya terhadap sang Nabi. [3]
Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah dibuat marah
besar oleh seorang laki-laki. Maka seorang sahabat menawarkan: “Apa perlu aku
potong lehernya?” Dengan perkataan itu, kemarahan Sang Khalifah mereda. Lalu
(Khalifah Abu Bakar) berdiri dan bertanya balik: “Apa katamu tadi?”. Dia
menjawab: “Ijinkan aku memenggal kepalanya.” Beliau bertanya memastikan lagi:
“Apa kamu benar-benar akan melakukannya jika aku perintahkan?” Dia menjawab:
“Iya”. Sang Khalifah berkata: “Tidak demi Allah, tidak boleh ada yang dibunuh
karena dihina setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” [4] Artinya,
jika ada yang menghina Nabi Muhammad, beliau mengijinkan tindakannya.
Suatu ketika, dua orang wanita dilaporkan dan dibawa kepada
Muhajir bin Abi Umayyah yang saat itu menjabat sebagai gubernur daerah Yamamah
dan sekitarnya. Salah satunya terjerat kasus bernyanyi-nyanyi dengan mencatut
nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bentuk hinaan, maka dipotonglah
tangannya, dan dicabut gigi serinya. Sedang wanita yang kedua bernyanyi-nyanyi
dengan membawa nama kaum muslimin dalam bentuk hinaan, maka dipotonglah
tangannya, dan dicabut gigi serinya. Kemudian kabar ini sampai kepada Khalifah
Abu Bakar As Shiddiq, diapun menulis surat kepada Amir Muhajir yang isinya:
“Telah sampai kepadaku apa yang telah engkau laksanakan atas wanita yang
bernyanyi-nyanyi dengan mencatut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau
saja engkau tidak mendahuluiku mengurusnya, aku pasti telah memerintahkan untuk
membunuh mereka berdua, karena hukuman atas Nabi tidak seperti hudud
lainnya. Jika yang melakukan (hinaan) itu ialah muslim, maka ia telah murtad,
atau (jika ia) seorang kafir mu’ahid (yang memiliki ikatan perjanjian
dengan kaum muslimin), maka dia telah menjadi kafir harbi (yang
diperangi) dan terusir. [5]
Imam As Syafi’i pernah ditanya tentang hukum bersenda gurau
dengan ayat-ayat Allah termasuk menghina Nabi, maka jawaban beliau: “Dia telah
kafir”, dengan landasan firman Allah ta’ala,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ
إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ
كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ
إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً
بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang
mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami
hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah
dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (65)
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami
memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab
golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat
dosa. (66) [6]
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Siapa saja yang mencela Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik ia muslim ataupun kafir, dia wajib
dibunuh (oleh pihak yang berwenang), itu yang kulihat, tanpa perlu diminta
bertaubat (terlebih dahulu).” [7]
Jika Pencela Nabi Bertaubat atau Masuk Islam
Akan tetapi jika pencela Sang Nabi bertaubat atau masuk
Islam sebelum dihukum, maka ia terbebas dari hukuman menurut madzhab As
Syafi’i, biarpun ia seorang muslim ataupun kafir. Berbeda dengan madzhab Maliki
dan Hanbali yang membedakan antara taubat muslim dan kafir, pelaku pencela Nabi
yang bertaubat dari kalangan muslimin maka tetap tidak diterima taubatnya.
Namun jika pencela ialah seorang kafir lalu bertaubat, ia terbebas dari
hukuman. [8]
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ialah guru
pertama dan utusan terakhir bagi umat Islam, karenanya ia wajib dibela harga
hidup atau harga mati. Allah ta’ala befirman,
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا
مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami
kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al
Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu
ketahui.” (QS. Al Baqarah: 151)
Referensi:
[1] Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, yaitu melakukan
perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan rasul- Nya;
seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.
[2] Ibnu Farhun (799 H). Tabshiratul Hukkam Fi Ushulil
Aqdhiyati Wa Manahijul Ahkam. 1406 H/1986 M. Maktabah Al Kulliyah Al Azhariyah.
Cetakan pertama. 2/281.
[3] Taqiyuddin As Subky (756 H). As Saif Al-Maslul ‘Ala Man
Sabba Ar Rasul. 1421 H/2000 M. Darul Fathi. Cetakan pertama.
[4] HR. Nasa’i dan Abu Daud, dari Abi Barzah.
[5] Taqiyuddin As Subky (756 H). As Saif Al-Maslul ‘Ala Man
Sabba Ar Rasul. 1421 H/2000 M. Darul Fathi. Cetakan pertama. Halaman 123.
[6] Taqiyuddin As Subky (756 H). As Saif Al-Maslul ‘Ala Man
Sabba Ar Rasul. 1421 H/2000 M. Darul Fathi. Cetakan pertama. Halaman 125.
[7] Taqiyuddin As Subky (756 H). As Saif Al-Maslul ‘Ala Man
Sabba Ar Rasul. 1421 H/2000 M. Darul Fathi. Cetakan pertama. Halaman 130.
[8] Taqiyuddin As Subky (756 H). As Saif Al-Maslul ‘Ala Man
Sabba Ar Rasul. 1421 H/2000 M. Darul Fathi. Cetakan pertama. Halaman 384.
Diterjemahkan, diringkas dan disusun di Banjararum,
Singosari, Malang, Jawa Timur, Indonesia, pada hari Sabtu 10 Rabiul Awwal 1442
H (27 Oktober 2020 M)
Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A.,
M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
Dosa mencela nabi muhammad dosa mencaci nabi muhammad dosa
menghina nabi muhammad dosa mencerca nabi muhammad hukuman mencela nabi hukuman
mencaci nabi hukuman menghina nabi hukuman mencerca nabi hukuman pencela nabi
hukuman pencaci nabi hukuman penghina nabi hukuman pencerca nabi presiden
macron menghina nabi boikot produk prancis

Komentar
Posting Komentar