Langsung ke konten utama

Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitrah Lebih Awal

 


Sehubungan dengan pertanyaan “bolehkah mengeluarkan zakat fithri lebih awal?” terdapat riwayat hadits sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari senda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah. (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)

Dalam riwayat tersebut, fungsi zakat fithri diterangkan sebagai طُهْرَةً (pembersih). Sedangkan kedudukan kata طُهْرَةً adalah sebagai maf'ul min ajlih, maksudnya ialah sebagai penjelas bagi sebab terjadinya suatu perbuatan. Dengan kata lain, kata طُهْرَةً (pembersih) merupakan sebagai sebab wajibnya mengeluarkan zakat fithri.

Keterangan ini bisa kita simak dalam kitab فتح ذي الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام (Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom Syarah Bulughul Al Maram),

طهرة هذه مفعول من أجله، أي لأجل تطهر الصائم من اللغو والرفث

“Kata طَهْرَةً adalah maful min ajlih, karena itulah sebab pembersihan seorang muslim yang berpuasa dari senda gurau dan kata-kata keji.”

Hal serupa diterangkan di dalam kitab المنهل العذب المورود شرح سنن الإمام أبي داود (Al Minhal Al 'Azb Al Maurud Syarah Sunan Abi Daud) sebagai berikut,

وأجاز الشافعي تقديمها من أول رمضان لأن سببها الصوم والفطر بعده فإذا وجد أحد السببين جاز تعجيلها

“Imam As Syafi'i rahimahullah membolehkan mendahulukannya disebabkan oleh puasa dan berbuka puasa setelahnya, jika salah satu dari dua penyebab ditemukan, maka boleh didahulukan (pembayaran zakatnya).”

Zakat fithri ialah sebagai طَهْرَةً atau pembersih bagi orang yang puasa. Puasa yang dimaksud adalah Ramadhan. Maka sejak awal Ramadhan diperbolehkan mengeluarkan zakat fithri. Seorang sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah memajukan zakat fithrinya sehari atau dua hari sebelum idul fithri:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma memberikannya (zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan mereka mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya 'Iedul Fithri. (HR. Bukhori)

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menuliskan dalam kitabnya Fathul Bari,

يعني تعجيلها قبل يوم الفطر  ويدل على ذلك أيضا ما أخرجه البخاري في الوكالة وغيرها

“Dan menunjukkan akan hal itu riwayat yang dikeluarkan Bukhari tentang wakalah dan selainya. Yakni mendahulukanya sebelum Idhul Fithri.”

Perbuatan Ibnu Umar memajukan zakatnya sehari atau dua hari ini biasa disebut dengan istilah:

ذكر بعض أفراد العام بحكم يوافق العام لا يقتضي التخصيص

“Penyebutan sebagian dari satuan yang umum, beserta hukum yang sama adalah bukan sebuah pengkhushusan.”

Sehingga jika kita dudukan perkaranya berkesimpulan sebagai berikut:

Kata طَهْرَةُ (pembersih) bagi yang berpuasa secara umum boleh mengeluarkan zakat selama Ramadhan baik di awal, pertengahan ataupun akhir. Sedangkan apa yang dilakukan Ibnu Umar tersebut adalah bagian dari keumuman tersebut, karena beliau mengeluarkanya di akhir.

Walhasil, kesimpulan ini juga sebagaimana tersebut dalam penjelasan kitab Al'aini Syarah Sunan Abu Daud,

عن خلف بن أيوب: يجوز تعجيلها بعد دخول رمضان لا قبله و قيل: يجور تعجيلها في النصف الأخير من رمضان وقيل في العشر الأخير

“Dari Khalaf bin Ayyub: Boleh mendahulukanya (zakat fithri) setelah masuknya Ramadhan, bukan sebelumnya. Dan dikatakan: Boleh mendahulukannya pertengahan akhir ramadhan, dan dikatakan pula boleh pada sepuluh hari akhir.”

Dengan demikian perbuatan Ibnu Umar tidak membatas waktu yang diperbuatnya dalam mengeluarkan zakat fithri. Maka sejak awal Ramadhan sudah boleh mengeluarkan zakat fithri.

Wallahu A'lam.

Diterjemahkan dan diisusun di Langlang, Singosari, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Kamis, 24 Ramadhan 1442 H (6 Mei 2021 M)

Oleh: Ust. Ery Santika Adirasa. S.ST.

Artikel hukumpolitiksyariah.com

kapan waktu mengeluarkan zakat fitrah waktu mengeluarkan zakat fithri bolehkah zakat fitrah dikeluarkan saat Ramadhan Ramadan waktu terbaik zakat fitrah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah Pegawai Menerima Hadiah dari Klien?

  Penjelasan Hadis Ghulul Ghulul ( الغُلُوْلُ ) dalam artian khusus bermakna: “Mengambil harta rampasan perang (ghanimah) secara tersembunyi sebelum waktu pembagiannya”, dapat pula diartikan secara umum, ghulul ialah: “Perbuatan khianat pada urusan harta”. Memberi hadiah kepada pegawai yang bekerja pada instansi negara maupun swasta juga termasuk ghulul, jika hadiah tersebut diberikan atas dasar jabatan yang pegawai emban, bukan hadiah yang diberikan atas dasar hubungan status kekeluargaan, persahabatan atau hubungan kedekatan lainnya. [1] Syeikh Salih bin Fauzan rahimahullah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, هَدَايَا الْعمَّال غلُول “Hadiah para pegawai ialah ghulul” (HR. Ahmad) Ia menjawab: “Iya, hadiah ini termasuk suap, maksud dari ( العُمَّال ) ialah pegawai yang bekerja (pada sebuah tempat). Maka tidak boleh dia menerima hadiah dari klien/nasabah/pengunjung atau siapapun yang memiliki urusan, termasuk pula bagi mereka yang bertugas mengumpul...

Dosa Homoseksual dan Hukumannya

  Homoseksual ( Al Liwath - اللِوَاط ) maksudnya ialah perbuatan keji dan haram yang dilakukan oleh lelaki, kepada sesama jenis lelaki, perbuatan ini pertama kali dilakukan oleh kaumnya Nabi Luth a.s. [1] Allah s.w.t. berfirman, وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ ‌شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١ 80. Dan (Kami telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?" 81. Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, sungguh kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’raf: 80-81) Hukuman Pelaku Homoseksual Menurut Para Ahli Fiqih Para ulama sepakat bahwa homoseksual atau semacamnya merupakan per...

Apakah Istri Wajib Menyapu, Mencuci dan Memasak?

  Baik suami maupun istri, keduanya memiliki hak dan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata'ala, mulai dari urusan ketika tetap menjaga ikatan tali pernikahan, hingga perkara setelah perceraian. Kedua belah pihak pasutri wajib menunaikan kewajiban kepada pasangannya dengan jiwa yang tulus dan hati yang lapang. Sang istri berhak mendapatkan dua nafkah: Nafkah dari sang suami berupa harta dengan jumlah yang ma'ruf (sesuai dengan adat atau kebiasaan yang diakui di negeri setempat). Istri juga berhak mendapatkan nafkah badan, yaitu menggauli dan mencampurinya ( jima' ) dengan cara yang patut. Umat Islam telah sepakat ( ber-ijma' ) jika suami tidak mau menggauli istrinya (sama sekali) maka keduanya boleh dipisah (cerai). Demikian pula jika suami terpotong kemaluannya atau tidak memiliki kekuatan syahwat (impotensi) yang menjadikannya tidak mampu menggauli istri, karena menggaulinya merupakan perkara yang diwajibkan oleh mayoritas ulama, sebagaimana diseb...