Menjaga amanah sangatlah penting, karena
seseorang yang kehilangan sifat ini tidak dapat dipercaya untuk menjamin hak
dan kewajiban yang ada, baik itu hak milik Allah maupun hak hambaNya. Setiap
hak dan kewajiban hanya bisa ditunaikan sebagaimana mestinya jika dilakukan
dengan amanah.
Mengesakan Allah dalam ibadah sebagaimana Allah
inginkan ialah amanah, siapa yang menegakkannya dengan benar maka dia telah
menunaikan amanah, sedangkan yang berbuat syirik, menyekutukan Allah, maka ia
telah disebut mengkhianati amanah. Semua perintah dan larangan Allah baik yang
halal maupun haram adalah amanah, siapa yang mematuhinya sebagaimana
diperintahkan, maka dia telah menunaikan amanah, dan barangsiapa yang lalai
daripadanya atau dari sebagiannya, maka dia telah mengkhianati amanah.
Amanah secara garis besar ialah beban yang
diembankan secara syariat kepada hamba Allah, baik itu berupa perintah ataupun
larangan. Maka masuk dalam kategori ini semua tanggung jawab, baik itu di
tempat kerja, tempat belajar, pernikahan, pengadilan, dakwah ataupun yang
lainnya. Karena itulah sifat amanah dianggap agung dalam dua pusaka suci Islam
Al Qur’an dan As Sunnah.
Amanah dalam Al Quran
1. Nabi Yusuf alaihissalam ketika mengetahui bahwa dirinya
memiliki kedudukan dan kemampuan untuk mengemban amanah bagi raja Mesir, lalu
melihat para petugas keuangan negara tidak becus dalam pelaksanaan tugas
mereka, ia memberanikan diri untuk maju bertanggung jawab atasnya, dan meminta raja
Mesir untuk mengembankan amanah kepadanya, dengan alasan bahwa dirinya telah memenuhi
syarat dengan memiliki sifat-sifat yang diperlukan, yaitu amanah, dan pengetahuan.
Allah ta’ala berfirman,
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا
كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ، قَالَ اجْعَلْنِي
عَلَى خَزَائِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Dan raja berkata: “Bawalah
Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka
tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu
(mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada
sisi kami. (54) Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah), lagi
berpengetahuan. (55)” (QS. Yusuf: 54-55)
2. Seorang putri lelaki saleh (yang menurut sebagian riwayat ialah
Nabi Syu’aib ‘alaihissalam) meminta kepada bapaknya supaya mempekerjakan
Nabi Musa ‘alaihissalam untuk menggembalakan kambing miliknya, karena Nabi
Musa memiliki dua sifat mulia yaitu kuat (mampu) dan amanah. Allah ta’ala
berfirman,
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ
اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأَمِينُ
“Salah seorang dari kedua wanita
itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita),
karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada
kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (amanah).”” (QS. Al Qashash:
26)
3. Nabi Nuh ‘alaihissalam menyebut dirinya dengan sebutan al
amin (bersifat amanah dan dapat dipercaya) untuk mengabarkan kepada kaumnya
bahwa dia adalah rasul (utusan) Tuhannya, Allah ta’ala berfirman,
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ، إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ
أَلا تَتَّقُونَ، إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
“Kaum Nuh telah mendustakan
para rasul. (105) Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka:
"Mengapa kalian tidak bertakwa? (106) Sesungguhnya aku adalah seorang
rasul kepercayaan yang diutus kepadamu (107)” (QS. As Syuara’: 105-107)
Demikian pula Nabi Hud, Saleh,
Luth, dan Syu’aib yang disebut dalam Al Qur’an dengan sebutan Al Amin, atau
yang amanah dan terpercaya.
4. Allah ta’ala telah lantang dalam ayat Al Qur’an
memerintahkan para hambaNya agar menunaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya. Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An Nisa: 58)
5. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa banyak makhluk yang amat besar
bahkan manusia tak lebih hanya setitik dari ukurannya berlepas diri ketika
ditawari mengemban amanah, karena mereka tahu betapa berat jika menanggungnya
dan pasti tidak akan mampu menjalankan sebagaimana mestinya. Namun justru
manusia satu-satunya makhluk yang mengajukan diri untuk mengemban tanggung
jawab yang begitu berat. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا
الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
“Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan
untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
amat bodoh.” (QS. Al Ahzab: 72)
6. Allah membagi Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) menjadi dua
kelompok dalam Al Qur’an: Kelompok yang pertama dipuji karena menjalankan
amanah meskipun amanah yang diemban berlimpah dan menggiurkan, sedangkan yang
kedua dicela karena mengkhianati amanah meskipun sedikit. Allah ta’ala
berfirman,
وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ
إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلا
مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِماً
“Di antara Ahli Kitab ada
orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya
kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya
satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.”
(QS. Ali Imran: 75)
Itulah sebagian contoh yang tersebut dalam Al
Qur’an tentang keutamaan sifat amanah. Amanah sangat mulia bukan hanya pada
agama Islam melainkan juga pada agama lain. Sebagaimana Al Qur’an, As Sunnah
juga mengagungkan sifat amanah, melarang perbuatan khianat, memuji orang
terpercaya dan mencela pengkhianat.
Amanah dalam As Sunnah
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan
hilangnya amanah sebagai pertanda kehancuran, dan betapa banyak perbuatan
khianat terjadi di jaman sekarang. Rasulullah bersabda,
"إِذَا
ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَاعَةَ"، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا
إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: "إِذَا وُسِّدَ الأَمْرِ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ
السَاعَةَ"
“Jika amanah hilang maka
tunggulah kehancuran.” Dikatakan: “Hai Rasulullah, bagaimana hilangnya?” Beliau
menjawab: “Jika perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah
kehancuran.” (HR. Bukhari, Baihaqy & Ahmad, sohih)
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada
Abu Dzar tentang urusan jabatan,
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةُ، وَإِنَّهَا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا،
وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
“Hei Abi Dzar, sungguh
Engkau itu lemah, dan sungguh ia adalah amanah, dan sungguh pada hari kiamat
akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang mengambi bersama
haknya, dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim, Baihaqy & Hakim, sohih)
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan
khianat sebagai salah satu sifat paling menonjol orang munafik, yaitu sifat
yang merupakan lawan dari sifat amanah, beliau bersabda,
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ
فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى
يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ
غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Empat sifat yang
barangsiapa memilikinya maka ia murni munafik, dan siapa yang memiliki (sebagian)
sifat daripada sifat-sifat ini maka ia memiliki sifat orang munafik hingga ia
meninggalkannya (yaitu): Jika diberi amanah berkhianat, jika berbicara
berbohong, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru melampiaskan.” (HR.
Bukhari & Muslim, sohih) [1]
Karena agung dan beratnya perkara amanah, maka
seorang muslim membutuhkan pertolongan Allah azza wa jalla untuk
mengemban dan menunaikannya. Allah ta’ala menjanjikan balasan melimpah bagi
yang mampu menjalankannya dengan benar, Dia berfirman,
وَمَنْ
يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيراً
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh,
baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu
masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa
124)
مَنْ عَمِلَ
صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً
طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)
Referensi:
[1] Majalah Al Jamiah Al Islamiyah Bil Madinah Al Muhawwarah. 2/245.
Diterjemahkan dan disusun di Banjararum,
Singosari, Malang, Indonesia
3 Safar 1443 H (10 September 2021 M)
Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
ayat tentang amanah anjuran menjaga amanah hadis tentang amanah hadits tentang amanah dalil tentang amanah larangan berkhianat larangan khianat ayat khianat

Komentar
Posting Komentar