Homoseksual (Al Liwath - اللِوَاط) maksudnya ialah perbuatan keji dan haram yang dilakukan oleh
lelaki, kepada sesama jenis lelaki, perbuatan ini pertama kali dilakukan oleh kaumnya
Nabi Luth a.s. [1]
Allah s.w.t. berfirman,
وَلُوطًا
إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ
أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن
دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١
80. Dan (Kami telah mengutus) Luth (kepada
kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu
mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan
oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?"
81. Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki
untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, sungguh kalian
ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’raf: 80-81)
Hukuman Pelaku Homoseksual Menurut Para Ahli Fiqih
Para ulama sepakat bahwa homoseksual atau
semacamnya merupakan perbuatan terlarang/haram dan dosa besar. Aada enam (6)
pendapat para ahli fiqih terkait hukuman yang ditimpakan kepada pelaku
homoseksual ini, yaitu:
1.
Pendapat Pertama.
Hukuman bagi pelaku homoseksual sama seperti
hukuman pezina, yaitu al-hadd, dengan dirajam (dikubur setengah
badan, lalu dilempari batu hingga mati) bagi yang sudah pernah menikah (al
muhsan), atau hukuman cambuk lalu diasingkan bagi yang belum pernah menikah
(ghairu muhsan). Ini adalah mazhab Imam Syafi’i, Hanbali, Abu Yusuf,
Muhammad, Tsauri, Al Auza’i dan Abu Tsaur r.a.. Dalilnya ialah sabda Nabi
Muhammad s.a.w.,
إِذَا أَتَى
الرَّجُل الرَّجُل فَهُمَا زَانِيَانِ
“Jika seorang lelaki mendatangi lelaki (dengan
syahwat), maka keduanya ialah pezina”. (HR. Baihaqy: 8/233) Sehingga hukuman pelaku
homoseksual sama seperti hukuman pelaku zina, entah dirajam, dicambuk, atau
diasingkan.
2. Pendapat Kedua.
Hukuman bagi pelaku homoseksual ialah sesuai
dengan ijtihad hakim (ta’zir) dengan dipenjara hingga mati atau hingga
bertaubat, dan tidak ada hukuman al had atasnya. Akan tetapi jika pelaku
mengulangi perbuatan kejinya lagi, maka pemimpin negara berhak menghukumnya
dengan hukuman mati, baik status dia muhsan atau ghairu muhsan,
dengan tujuan memberi efek jera (as siyasah). Ini adalah mazhab Imam Abu
Hanifah, Hammad, Abu Sulaiman dan Al Hakam r.a.. Dalilnya ialah karena
pengertian bahasa “az zina” tidak sama dengan pengertian “al
liwath”, dan juga karena perbuatannya tidak sama dengan zina, yang
dilakukan pada bagian tubuh yang berbeda, bahkan dilakukan pada bagian tubuh
yang seharusnya manusia merasa jijik padanya.
3. Pendapat Ketiga.
Hukuman bagi pelaku homoseksual ialah rajam
secara mutlak, yaitu dengan mengubur bagian bawah tubuh pelaku, lalu dilempari
dengan batu hingga mati. Baik itu bagi yang melakukan (الفاعل) ataupun yang menjadi objek perlakuan (المفعول), baik yang muhsan ataupun yang ghairu
muhsan. Ini adalah mazhab sebagian sahabat seperti Nabi seperti Umar bin
Khattab, Ibnu Abbas, Jabir, Zaid, Az Zuhri, Ishaq, dan salah satu mazhab Imam
Syafi’i r.a.. Dalilnya adalah umumnya sabda Nabi s.a.w.,
مَنْ
وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَل عَمَل قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِل وَالْمَفْعُول
بِهِ
“Siapa saja yang kalian temui melakukan perbuatan
kaum (Nabi) Luth, maka bunuhlah yang melakukan dan yang menjadi objek perlakuan
padanya”. (HR. Tirmidzi 4/57, Hakim 4/355)
Juga karena perbuatan itu dilakukan dengan tujuan
mendapatkan kenikmatan, seperti halnya kasus zina yang dilakukan pada wanita;
sehingga tujuannya sama, namun kasusnya lebih keji, menjijikkan dan berat, karena
itulah hukuman lebih berat dan ditimpakan pada semua status pelakku, al
muhsan, ataupun ghairu muhsan. Hukuman al had rajam pada
pezina, ditegakkan dengan tujuan memberi efek jera; supaya tidak ada lagi yang
melakukan perbuatan keji itu.
4. Pendapat Keempat.
Hukuman bagi pelaku homoseksual ialah dipenggal
kepalanya menggunakan pedang layaknya orang yang murtad (keluar dari agama
Islam), baik statusnya ialah muhsan, ataupun ghairu muhsan. Ini
adalah mazhab Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya, Ishaq bin Rahawih,
Ibnu ‘Abbas, ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As Shiddiq r.a. dan yang lainnya
r.a. Dalilnya adalah keumuman sabda Nabi s.a.w.,
فَاقْتُلُوا
الْفَاعِل وَالْمَفْعُول بِهِ
“Maka bunuhlah yang melakukan dan yang dilakukan.”
Dalam hadis ini tidak dibedakan antara muhsan
atau ghairu muhsan; karena semakin berat keharaman sebuah perbuatan,
maka semakin berat pula hukumannya. Sedangkan berbuat keji (menyetubuhi) sesuatu
yang masih bisa dihalalkan lebih ringan daripada berbuat keji pada sesuatu yang
tidak bisa dihalalkan, karena itulah hukumannya lebih berat daripada berbuat
zina (pada lawan jenis).
5. Pendapat Kelima.
Hukuman bagi pelaku homoseksual ialah dibakar,
baik yang melakukan ataupun yang dilakukan padanya perbuatan itu. Diriwayatkan
dari sebagian sahabat Nabi s.a.w. seperti Abu Bakar As Shiddiq, Ibnu Zubair,
Khalid bin Walid dan yang lainnya r.a.
فَقَدْ رَوَى
صَفْوَانُ بْنُ سَلِيمٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهُ وَجَدَ فِي بَعْضِ ضَوَاحِي الْعَرَبِ رَجُلاً يُنْكَحُ كَمَا تُنْكَحُ
الْمَرْأَةُ، فَكَتَبَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَاسْتَشَارَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ الصَّحَابَةَ فِيهِ، فَكَانَ عَلِيٌّ أَشَدَّهُمْ قَوْلاً فِيهِ،
فَقَال: مَا فَعَل هَذَا إِلَاّ أُمَّةٌ مِنَ الأُمَمِ وَاحِدَةٌ، وَقَدْ
عَلِمْتُمْ مَا فَعَل اللَّهُ بِهَا، أَرَى أَنْ يُحْرَقَ بِالنَّارِ. فَكَتَبَ
أَبُو بَكْرٍ إِلَى خَالِدٍ بِذَلِكَ فَحَرَقَهُ
Diriwayatkan oleh Shafwan bin Sulaim, dari Khalid
bin Walid r.a., bahwasanya dia menemukan seorang lelaki di sebagian pelosok negeri
Arab yang menikahi sesama lelaki sebagaimana menikahi wanita. Maka dia menulis
(surat) kepada Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a. tentangnya, maka para sahabat
mendiskusikan perkara itu kepada Khalifah Abu Bakar. Saat itu ‘Ali bin Abi
Thalib yang memiliki pendapat paling keras, dia berkata: “Perbuatan ini tidak
dilakukan kecuali oleh satu kaum, dan kalian telah tahu apa yang dilakukan oleh
Allah s.w.t. kepada mereka. Saya berpendapat bahwa (hukuman) mereka adalah dibakar
menggunakan api.” Kemudian Khalifah Abu Bakar r.a.-pun menulis (surat) kepada
Khalid bin Walid dengan keputusan itu, maka beliaupun membakarnya.
Ibnul Qayyiim r.a. menukil dari sebagian ulama
mazhab Hanbali: “Jika pemimpin negeri setuju dengan pembakaran pelaku
homoseksual (Al Luthi), maka dia boleh memutuskannya. [2]
6. Pendapat Keenam.
Hukuman bagi pelaku homoseksual ialah dijatuhkan
dari tempat tertinggi di sebuah daerah dalam keadaan terbalik, lalu
dilanjutkan dengan dilempari batu [3]. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas r.a., Allah
s.w.t. berfirman,
فَلَمَّا
جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا
حِجَارَةً
82. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan
negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani
mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)
[4]
Catatan:
Hukuman hanya dilakukan oleh pihak yang berwenang
(pemerintah), bukan dilakukan oleh individu atau atau kesepakatan masyarakat
untuk main hakim sendiri.
Referensi:
[1] Mu’jam Allughah Al Arabiyah Al Mu’ashirah.
Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid Umar. Alamul Kutub. Cetakan 1, 1429 H – 2008 M.
3/2048.
[2] Al Mughni. Ibnu Qudamah (12/349-350).
[3] Al Mabsuth. As Sarkhasy (9/79).
[4] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah. Wizaratul
Auqaf Was Syu’un Al Islamiyah, Kuwait. Cetakan 1 1404 H – 1427 H. 44/23.
Diterjemahkan dan disusun di Museum Internasional
Biografi Nabi dan Peradaban Islam, Makkah, Kerajaan Arab Saudi
Ahad, 2 Dzulqa’dah 1447 H (19 April 2026 M)
Oleh: Iskandar Zulqarnain,
B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
dosa homo dosa lesbi dosa boti hukuman banci banci dalam Islam bolehkah homoseksual bolehkah lesbian ayat homo kisah nabi Luth larangan homoseksual habib mesum ustadz mesum kyai mesum kyai cabul habib cabul ayat boti undang-undang banci bencong bolehkah jadi banci anti boti anti banci anti bencong larangan LGBT dalam Islam LGBT dalam Islam

Komentar
Posting Komentar