Langsung ke konten utama

Sebaiknya Menampakkan atau Menyembunyikan Sedekah?

 


Sedekah adalah harta yang dikeluarkan muslim dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Sedekah ada yang wajib seperti zakat, ada pula yang sunah seperti sedekah sukarela (tathowu’). Lalu manakah yang terbaik, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?

Hukum asal sedekah wajib seperti zakat fitrah, yang terbaik adalah dengan menampakkannya. Sedangkan untuk sedekah sukarela yang terbaik hukum asalnya adalah secara rahasia atau menyembunyikannya, berdasarkan firman Allah ta’ala,

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 271)

Dari Ibnu Abbas melalui jalur Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang tafsir ayat di atas beliau berkata,

فجعل الله صدقة السرِّ في التطوُّع تَفْضُلُ على علانيتها سبعين ضِعْفًا، وجعل صدقة الفريضة علانيتَها أفضلَ من سِرِّها بخمسة وعشرين ضِعْفًا، وكذلك جميع الفرائض والنوافل في الأشياء كلها

“Maka Allah menjadikan sedekah sukarela secara rahasia 70 kali lipat (lebih baik) dari sedekah terang-terangan, dan menjadikan sedekah fardhu/wajib secara terang-terangan 25 kali (lebih baik) daripada sedekah secara rahasia, demikian pula untuk semua perkara fardhu dan nafilah lainnya. [2]

Juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sedekah sukarela,

سَبْعَةٌ ‌يُظِلُّهُمُ ‌اللَّهُ ‌فِي ‌ظِلِّهِ: ... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya: (diantaranya) Seorang lelaki yang bersedekah, menyembunyikannya hingga tangan kirinya (sendiri) tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Itulah hukum asal sedekah sunah, lebih baik menyembunyikannya. Akan tetapi jika ada kemaslahatan yang rajih ketika mengamalkan sedekah dengan cara terang-terangan; seperti untuk menampakkan syiar Islam, agar menjadi teladan bagi orang lain sehingga ikut bersedekah sepertinya, atau agar tidak dituduh orang lain sebagai manusia yang tidak mengeluarkan zakat, maka menampakkannya lebih baik dan masuk ke dalam bab sunah hasanah (teladan yang baik) dan bukan riya’, sehingga dalam kondisi ini menampakkan sedekah menjadi lebih baik -wallahu a’lam-.

Syeikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menafsirkan surat Al Baqarah ayat 271 di atas: “{Jika engkau menampakkan sedekah} atau menunjukkannya sehingga menjadi terang-terangan dengan maksud mendapat balasan dari Allah {maka itu baik sekali}, dengan memperolah maksudnya. {Jika engkau menyembunyikannya}, atau secara rahasia {lalu engkau berikan kepada para fakir, maka itu lebih baik bagi kalian}. Maka dalam perkara ini sedekah secara rahasia kepada fakir lebih baik daripada sedekah terang-terangan. Sedangkan jika belum memberi sedekah kepada para fakir maka bisa dipahami dari ayat ini kalau sembunyi-sembunyi itu tidaklah lebih baik daripada terang-terangan. Maka (yang terbaik adalah) kembali kepada kemaslahatan. Jika dengan menampakkan sedekah merupakan syiar agama, menjadi teladan (bagi yang lain), atau semacamnya, maka itu lebih afdhol daripada (sedekah) secara rahasia. Dalilnya ialah firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan engkau berikan kepada para fakir”. Di sisi lain, orang yang bersedekah harus memperhatikan keadaan yang membutuhkan, tidak memberi kepada seseorang sedangkan yang lain lebih membutuhkan.” [1]

Apakah Menunjukkan Sedekah Mengurangi Pahala?

Syeikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah mengabarkan kepada orang-orang tentang sesuatu yang telah disedekahkan, atau menampakkannya di depan mereka tentang donasi pengumpulan dana sedekah dari sekumpulan orang menyebabkan keharaman pelakunya dari memperoleh pahala?”

Beliau menjawab: “Jika seseorang menampakkan sedekahnya, menampakkan pengumpulan donasi sedekah di depan orang-orang atau semacamnya, sesungguhnya itu tidak mengurangi pahalanya. Karena Allah ta’ala memuji mereka yang meginfakkan harta mereka baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Bahkan, menampakkannya bisa jadi lebih baik daripada menyembunyikannya ketika terdapat kemaslahatan, seperti menjadi teladan bagi orang lain untuk mengamalkan sebagaimana yang dia amalkan, sehingga dia menjadi petunjuk orang lain kepada kebaikan, termasuk yang mengawali sunah kebaikan, sedangkan dia yang menjadi penunjuk kepada kebaikan mendapat pahala seperti orang lain yang melakukannya. Barang siapa yang melakukan sunah (perbuatan) kebaikan, maka dia mendapatkan pahalanya, juga pahala orang lain yang mengamalkannya hingga hari kiamat. Jika seseorang tahu dari dalam hatinya bahwa ketika dia menampakkan sedekah itu supaya dilihat manusia (riya’), lalu supaya dipuji karena amalan ibadah ini, maka itu termasuk riya’ yang wajib diusahakan agar terhindar darinya semampu dia, semoga Allah memberi taufik.” [3]

Diterjemahkan, disusun & diringkas dari:

[1] Abdurrahman bin Nasir As Sa’dy. Taisirul Karim Arrahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan. Muassasatur Risalah. Cetakan 1 tahun 1420 H/2000 M. Hal. 116.
[2] Markaz Ad Dirasat Wal Ma’lumat Al Qur’aniyyah. Mausu’atu Tafsir Al Ma’tsur. Ma’had Imam As Syathibi, Dar Ibnu Hazm – Beirut. Cetakan 1 tahun 1439 H/2017 M. 4/610.
[3] Muhammad bin Saleh Al Utsaimin. Fatawa Nurun Aladarbi. binothaimeen.net. Kaset no. 109.

Di Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia
Selasa 11 Ramadan 1433 H (12 April 2022 M)

Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com

sebaiknya menampakkan atau menyembunyikan sedekah? cara sedekah yang terbaik hadis sedekah hadits tentang sedekah ayat sedekah hadis sedekah sembunyi hadis sedekah terang ayat sedekah sembunyi ayat sedekah terang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemuliaan Kota Makkah

  Kota Makkah Al Mukarramah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan tempat terbaik di muka bumi, negeri yang paling dicintai Allah s.w.t. Makkah tempat kelahiran Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tumbuh besar di sana hingga dewasa. Di kota ini turun wahyu pertama kepada sang Nabi melalui perantara malaikat Jibril kepadanya di Gua Hira. Cahaya Islam-pun bermula terpancar dari Makkah Al Mukarramah, lalu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah s.w.t. berfirman, وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَاۚ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ وَهُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ يُحَافِظُونَ “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luarnya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat t...

Bolehkah Pegawai Menerima Hadiah dari Klien?

  Penjelasan Hadis Ghulul Ghulul ( الغُلُوْلُ ) dalam artian khusus bermakna: “Mengambil harta rampasan perang (ghanimah) secara tersembunyi sebelum waktu pembagiannya”, dapat pula diartikan secara umum, ghulul ialah: “Perbuatan khianat pada urusan harta”. Memberi hadiah kepada pegawai yang bekerja pada instansi negara maupun swasta juga termasuk ghulul, jika hadiah tersebut diberikan atas dasar jabatan yang pegawai emban, bukan hadiah yang diberikan atas dasar hubungan status kekeluargaan, persahabatan atau hubungan kedekatan lainnya. [1] Syeikh Salih bin Fauzan rahimahullah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, هَدَايَا الْعمَّال غلُول “Hadiah para pegawai ialah ghulul” (HR. Ahmad) Ia menjawab: “Iya, hadiah ini termasuk suap, maksud dari ( العُمَّال ) ialah pegawai yang bekerja (pada sebuah tempat). Maka tidak boleh dia menerima hadiah dari klien/nasabah/pengunjung atau siapapun yang memiliki urusan, termasuk pula bagi mereka yang bertugas mengumpul...

Keutamaan Kota Madinah

  Kota Madinah Al Munawwarah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan ibu kota pertama pilihan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat Islam. Kota ini merupakan tempat turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, turunnya malaikat Jibril kepadanya, kekhalifahan pertama berdiri, bertemunya kaum Muhajirin dan Anshar, jihad pertama ditegakkan, sumber teresbarnya cahaya hidayah, rumah hijrah Nabi beserta para sahabatnya, di sanalah beliau hidup hingga akhir hayatnya, di sanalah beliau dikubur dan akan dibangkitkan kembali shallallahu ‘alaihi wasallam . Kota Madinah dianugerahi keutamaan dan kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan berbagai kekhususan, diantaranya: 1.       Madinah Tempat Terbaik di Muka Bumi setelah Mekah. Kota Madinah yang diberkahi dan dimuliakan oleh Allah ini merupakan termpat terbaik setelah Kota Mekah, sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diusir oleh kaum kafir Quraisy ...