Sedekah adalah harta yang dikeluarkan muslim dengan maksud
mendekatkan diri kepada Allah. Sedekah ada yang wajib seperti zakat, ada pula
yang sunah seperti sedekah sukarela (tathowu’). Lalu manakah yang
terbaik, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?
Hukum asal sedekah wajib seperti zakat fitrah, yang terbaik
adalah dengan menampakkannya. Sedangkan untuk sedekah sukarela yang terbaik hukum
asalnya adalah secara rahasia atau menyembunyikannya, berdasarkan firman Allah ta’ala,
إِن
تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ
فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا
تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali.
Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka
menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu
sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Baqarah: 271)
Dari Ibnu Abbas melalui jalur Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu tentang tafsir ayat di atas beliau berkata,
فجعل
الله صدقة السرِّ في التطوُّع تَفْضُلُ على علانيتها سبعين ضِعْفًا، وجعل صدقة
الفريضة علانيتَها أفضلَ من سِرِّها بخمسة وعشرين ضِعْفًا، وكذلك جميع الفرائض
والنوافل في الأشياء كلها
“Maka Allah menjadikan sedekah sukarela secara rahasia 70
kali lipat (lebih baik) dari sedekah terang-terangan, dan menjadikan sedekah
fardhu/wajib secara terang-terangan 25 kali (lebih baik) daripada sedekah secara
rahasia, demikian pula untuk semua perkara fardhu dan nafilah lainnya. [2]
Juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda tentang sedekah sukarela,
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ: ... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لَا
تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Tujuh golongan yang diberi naungan oleh
Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya: (diantaranya)
Seorang lelaki yang bersedekah, menyembunyikannya hingga tangan kirinya
(sendiri) tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari
& Muslim)
Itulah hukum asal sedekah sunah, lebih baik
menyembunyikannya. Akan tetapi jika ada kemaslahatan yang rajih ketika mengamalkan
sedekah dengan cara terang-terangan; seperti untuk menampakkan syiar Islam,
agar menjadi teladan bagi orang lain sehingga ikut bersedekah sepertinya, atau
agar tidak dituduh orang lain sebagai manusia yang tidak mengeluarkan zakat,
maka menampakkannya lebih baik dan masuk ke dalam bab sunah hasanah
(teladan yang baik) dan bukan riya’, sehingga dalam kondisi ini menampakkan
sedekah menjadi lebih baik -wallahu a’lam-.
Syeikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menafsirkan surat
Al Baqarah ayat 271 di atas: “{Jika engkau menampakkan sedekah} atau
menunjukkannya sehingga menjadi terang-terangan dengan maksud mendapat balasan
dari Allah {maka itu baik sekali}, dengan memperolah maksudnya. {Jika engkau menyembunyikannya},
atau secara rahasia {lalu engkau berikan kepada para fakir, maka itu lebih baik
bagi kalian}. Maka dalam perkara ini sedekah secara rahasia kepada fakir lebih
baik daripada sedekah terang-terangan. Sedangkan jika belum memberi sedekah kepada
para fakir maka bisa dipahami dari ayat ini kalau sembunyi-sembunyi itu tidaklah
lebih baik daripada terang-terangan. Maka (yang terbaik adalah) kembali kepada
kemaslahatan. Jika dengan menampakkan sedekah merupakan syiar agama, menjadi
teladan (bagi yang lain), atau semacamnya, maka itu lebih afdhol daripada
(sedekah) secara rahasia. Dalilnya ialah firman Allah ta’ala (yang
artinya): “Dan engkau berikan kepada para fakir”. Di sisi lain, orang yang
bersedekah harus memperhatikan keadaan yang membutuhkan, tidak memberi kepada
seseorang sedangkan yang lain lebih membutuhkan.” [1]
Apakah Menunjukkan Sedekah Mengurangi Pahala?
Syeikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin rahimahullah
pernah ditanya, “Apakah mengabarkan kepada orang-orang tentang sesuatu yang telah
disedekahkan, atau menampakkannya di depan mereka tentang donasi pengumpulan
dana sedekah dari sekumpulan orang menyebabkan keharaman pelakunya dari
memperoleh pahala?”
Beliau menjawab: “Jika seseorang menampakkan sedekahnya,
menampakkan pengumpulan donasi sedekah di depan orang-orang atau semacamnya,
sesungguhnya itu tidak mengurangi pahalanya. Karena Allah ta’ala memuji
mereka yang meginfakkan harta mereka baik secara sembunyi maupun
terang-terangan. Bahkan, menampakkannya bisa jadi lebih baik daripada
menyembunyikannya ketika terdapat kemaslahatan, seperti menjadi teladan bagi
orang lain untuk mengamalkan sebagaimana yang dia amalkan, sehingga dia menjadi
petunjuk orang lain kepada kebaikan, termasuk yang mengawali sunah kebaikan,
sedangkan dia yang menjadi penunjuk kepada kebaikan mendapat pahala seperti orang
lain yang melakukannya. Barang siapa yang melakukan sunah (perbuatan) kebaikan,
maka dia mendapatkan pahalanya, juga pahala orang lain yang mengamalkannya
hingga hari kiamat. Jika seseorang tahu dari dalam hatinya bahwa ketika dia
menampakkan sedekah itu supaya dilihat manusia (riya’), lalu supaya dipuji karena
amalan ibadah ini, maka itu termasuk riya’ yang wajib diusahakan agar terhindar
darinya semampu dia, semoga Allah memberi taufik.” [3]
Diterjemahkan, disusun & diringkas dari:
[1] Abdurrahman bin Nasir As Sa’dy. Taisirul Karim Arrahman
Fi Tafsir Kalam Al Mannan. Muassasatur Risalah. Cetakan 1 tahun 1420 H/2000 M.
Hal. 116.
[2] Markaz Ad Dirasat Wal Ma’lumat Al Qur’aniyyah. Mausu’atu
Tafsir Al Ma’tsur. Ma’had Imam As Syathibi, Dar Ibnu Hazm – Beirut. Cetakan 1
tahun 1439 H/2017 M. 4/610.
[3] Muhammad bin Saleh Al Utsaimin. Fatawa
Nurun Aladarbi. binothaimeen.net. Kaset no. 109.
Di Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia
Selasa 11 Ramadan 1433 H (12 April 2022 M)
Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
sebaiknya menampakkan atau menyembunyikan sedekah? cara sedekah yang terbaik hadis sedekah hadits tentang sedekah ayat sedekah hadis sedekah sembunyi hadis sedekah terang ayat sedekah sembunyi ayat sedekah terang

Komentar
Posting Komentar