Zina (الزِنَا)
ialah perbuatan keji laki-laki dan wanita yang diharamkan[1]. Pengertian zina
secara istilah (terminologi) menurut para ulama’ ialah:
مَغِيبُ
حَشَفَةِ آدَمِيٍّ فِي فَرْجِ آخَرَ دُونَ شُبْهَةِ حِلِّهِ عَمْدًا
“Masuknya kemaluan anak Adam ke dalam
kemaluan lain tanpa syubhat (keraguan) kehalalannya dan secara sengaja” [2]
Dari pengertian di atas maka termasuk
juga perbuatan homoseksual (اللِوَاط)
dan sodomi. Zina hukumnya haram, ia merupakan salah satu dosa terbesar
setelah dosa syirik (menyekutukan Allah), dan membunuh manusia yang tak
bersalah.
Dosa zina bertingkat-tingkat, mulai dari
zina mata dengan sekedar melihat sesuatu yang diharamkan, dan semakin buruk
jika praktik zina dilakukan dengan wanita yang telah bersuami, istri tetangga,
dan yang terburuk ialah zina dengan mahram seperti ibu dan saudari kandung.
Allah ta’ala berfirman,
قُل
لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ
ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (30) وَقُل
لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا
يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ (31)
"Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (30). Katakanlah
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya"." (QS. An Nur: 30-31)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَا
تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)
وَالَّذِينَ
لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي
حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ
أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ
مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ
يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
(70)
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan
yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang
siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya) (68) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari
kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (69) kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (70) (QS. Al Furqan: 68-70)
الزَّانِي
لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا
إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan
perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina
tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik,
dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nur: 3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
عَنْ
عَبْدِاللهِ بنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: قُلتُ يَا رَسُولَ اللهِ،
أيُّ الذَّنْبِ أعْظَمُ؟ قال: «أنْ تَجْعَلَ للهِ نِدّاً وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلتُ:
ثُمَّ أيٌّ؟ قال: «أنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مِنْ أجْلِ أنْ يَطْعَمَ مَعَكَ». قُلتُ:
ثُمَّ أيٌّ؟ قال: «أنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ»
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
dia berkata, “Hai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Dia berkata:
“Mengadakan tandingan atas Allah (menyekutukanNya), sedangkan Dialah yang
menciptakanmu”, “Lalu apa lagi?”, “Membunuh anakmu supaya kamu bisa makan”, “Lalu
apa lagi?”, “Berzina dengan istri tetanggamu”. (Muttafaqun ‘alaih)
Beliau juga bersabda,
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّهُ: ... وَرَجُلٌ
طَلَبَتْهُ امْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقال إنِّي أخَافُ اللهَ ...
“Tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah
pada hari dimana tiada naungan kecuali naunganNya: … (salah satunya) Lelaki
yang diajak oleh wanita berkedudukan nan cantik (untuk berzina) lalu dia
menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”.” (Muttafaqun ‘alaih)
مَنْ
يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أضْمَنْ لَهُ
الجَنَّةَ
“Siapa yang bisa menjamin untukku sesuatu
yang antara dua jenggotnya (mulut), dan antara dua kakinya (kemaluan), maka aku
jamin baginya surga” (HR. Bukhari)
Zina dampaknya buruk, ia mengacaukan
tatanan kehidupan masyarakat, merusak kejelasan nasab dan menginjak kehormatan
manusia. Lebih jauh lagi, zina membuka pintu kemaksiatan lain, zalim terhadap
makhluk, berujung menyia-nyiakan keluarga dan harta, memutus hubungan
silaturahim, menyebabkan penyakit jiwa dan kelamin, serta mewariskan kefakiran
dan kemiskinan. Zina menyebabkan gelapnya hati, menjadikan manusia baik-baik menjauhi
pelakunya.
Hukuman Pelaku Zina di Akhirat
Jika pezina mati dalam keadaan belum berataubat
dari perbuatannya, maka akan dikumpulkan dalam tungku api raksasa neraka
Jahannam bersama para pelaku zina lainnya dalam keadaan telanjang. Rasulullah shallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُ
أتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي» -وفيه: أنَّهُمَا
قَالا- «وَأمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ
التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي
“Telah datang kepadaku pada suatu malam dua
kali kedatangan (malaikat), keduanya mengutusku dan berkata: “Sedangkan para
lelaki dan perempuan yang telanjang dalam bangunan seperti tungku dapur (di
neraka) itu, mereka sungguh ialah para wanita dan pria pezina.”” (Muttafaqun
‘alaihi)
Hukuman Pelaku Zina di Dunia
Pada masa awal Islam, hukuman bagi pelaku
zina yang sudah menikah ialah dikurung atau dipenjara hingga mati (oleh pihak
berwenang). Allah ta’ala berfirman,
وَاللَّاتِي
يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً
مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ
الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا (15) وَاللَّذَانِ
يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا
عَنْهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَحِيمًا (16)
“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan
perbuatan keji (zina dan sejenisnya), hendaklah ada empat orang saksi diantara
kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian,
maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui
ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. (15) Dan terhadap dua
orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada
keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka
biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(16) (QS. An Nisa: 15-16)
Kemudian ayat ini diangkat (النَسْخ) dan diganti dengan hukuman baru bagi
pelaku zina, yaitu hukuman rajam bagi yang bukan perawan, dan hukuman cambuk
bagi perawan yang belum menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
خُذُوْا
عَنِّيْ، خُذُوْا عَنِّيْ، قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيْلًا: البِكْرُ بِالبِكْرِ
جِلْدُ مِائَة وَتغْرِيْبُ عَامٍ، وَالثَيِّبُ بِالثَّيِّبِ جِلْدُ مِائَة وَالرَجْمُ
“Ambilllah dariku, ambillah dariku, Allah
telah menjadikan bagi mereka (para wanita pezina) jalannya: Perawan (wanita)
dengan perawan (laki-laki) hukuman seratus kali cambuk dan diasingkan (selama)
satu tahun, bukan perawan (wanita) dengan bukan perawan (laki-laki) hukuman
seratus kali cambuk dan dirajam” (HR. Muslim)
Sedangkan dalil hukuman cambuk seratus
kali bagi pezina yang belum menikah ialah firman Allah ta’ala dalam Al
Qur’an,
الزَّانِيَةُ
وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا
تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang
berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan
janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama
Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang
beriman.” (QS. An Nur: 2)
Jadi, bisa disimpulkan bahwa pezina ada
dua macam:
Yaitu muhshan (مُحْصَن) dan ghairu muhshan (غَيْرُ
مُحْصَن), muhshan ialah yang baligh, berakal, merdeka (bukan budak), muslim,
dan telah kawin dalam akad nikah yang sah [4]. Hukuman bagi keduanya berbeda:
1. Hukuman pezina muhshan (مُحْصَن),
yaitu pelaku yang telah menikah, maka hukumannya ialah dirajam, dengan
dilempari batu hingga mati (oleh pihak yang berwajib) jika terbukti melakukan
praktik zina. Sebagaimana kasus seorang sahabat Nabi Ma’iz bin Malik Al Aslamy &
Al Ghamidiyah radhiyallahu ‘anhuma.
عن
عبد اللَّه بن بريدة عن أبيه أن ماعز بن مالك الأسلمي - رضي اللَّه عنه - أتى رسول
اللَّه - صلى اللَّه عليه وسلم - فقال: يا رسول اللَّه إني قد ظلمت نفسي وزنيت،
وإني أريد أن تطهرني، فرده، فلما كان من الغد أتاه، فقال: يا رسول اللَّه إني قد
زنيت، فرده الثانية، فأرسل رسول اللَّه - صلى اللَّه عليه وسلم - إلى قومه فقال:
(أتعلمون بعقله بأسًا، تنكرون منه شيئًا)، فقالوا: ما نعلمه إلا وفيّ العقل من
صالحينا فيما نرى، فأتاه الثالثة، فأرسل إليهم أيضًا، فسأل عنه، فأخبروه أنه لا
بأس به، ولا بعقله، فلما كان الرابعة حفر له حفرة ثم أمر به فرُجم، قال: فجاءت
الغامدية فقالت: يا رسول اللَّه إني قد زنيت فطهرني، وإنه ردها، فلما كان الغد
قالت: يا رسول اللَّه لم تردني؟ لعلك أن تردني كما رددت ماعزًا، فواللَّه إني
لحبلى، قال: (إِمَّا لا فاذهبي حتى تلدي)، فلما ولدت أتته بالصبي في خرقة، قالت:
هذا قد ولدته، قال: (اذهبي فأرضعيه حتى تفطميه)، فلما فطمته أتته بالصبي في يده
كسرة خبز، فقالت: هذا يا نبي اللَّه قد فطمته، وقد أكل الطعام، فدفع الصبي إلى رجل
من المسلمين، ثم أمر بها، فحفر لها إلى صدرها، وأمر الناس فرجموها
Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya,
bahwa Ma’iz bin Malik Al Aslamy radhiyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Hai Rasulullah, aku telah menzalimi
diriku sendiri dan telah berbuat berzina. Sungguh aku ingin Engkau mensucikanku
(dari dosa)”. Rasulullah (memutuskan untuk) mengembalikan dia (kepada kaumnya).
Pada keesokan harinya dia (Ma’iz) mendatanginya kembali, ia pun berkata: “Hai
Raasulullah, aku telah berzina”. Dia (Ma’iz) pun dikembalikan untuk keduakalinya.
Rasulullah mengirimnya kepada kaumnya dan bertanya: “Apakah terjadi sesuatu
pada akalnya?” mereka menjawab: “Kami tidak mengetahuinya kecuali akalnya ialah
dari yang terbaik dari (kaum) kami, sebagaimana kami ketahui”. Ma’iz mendatangi
Rasulullah untuk ketiga kalinya, lalu Rasulullah kembalikan lagi kepada kaumnya,
dan merekapun mengabarkan bahwa tidak ada yang salah dengannya maupun akalnya. Sehingga
pada kedatangannya yang ke empat, digalikanlah untuknya sebuah lubang, kemudian
(Ma’iz) diperintahkan masuk ke dalamnya, lalu dirajam (dilempari batu hingga
wafat).
Lalu datanglah (sahabiyah) Al Ghamidiyah radhiyallahu
‘anha, dia berkata: “Hai Rasulullah, sungguh aku telah berbuat zina, maka
sucikanlah aku (dari dosa)”. Rasulullah-pun mengembalikannya (kepada kaumnya).
Pada keesokan harinya dia datang lagi dan berkata: “Hai Rasulullah, kenapa
Engkau mengembalikanku? Mungkinkah Anda mengembalikanku sebagaimana Engkau
mengembalikan Ma’iz? Demi Allah aku telah hamil”. Rasulullah menjawab: “Tidak,
pergilah hingga kamu melahirkan”. Maka setelah dia (Al Ghamidiyah) melahirkan,
dia datang bersama seorang bayi yang ia gendong pada sepotong kain dan berkata:
“Inilah, aku telah melahirkan”. Rasulullah menjawab: “Pergilah, susuilah dia
hingga engkau menyapihnya”. Setelah dia (Al Ghamidiyah) selesai dari persapihan,
ia datang kembali sambil membawa bayi dengan potongan roti dan berkata: “Inilah
Hai Nabi Allah, aku telah menyapihnya, dia sudah bisa makan”. Maka Rasulullah
menyerahkan bayi itu kepada seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu
memerintahkan supaya dibuatkan lubang baginya (Al Ghamidiyah) hingga sebatas
dada, lalu menyuruh orang-orang untuk merajamnya (melemparinya menggunakan batu
hingga wafat)”. (HR. Bukhari & Muslim)
Demikian pula pada kisah wanita dari
kabilah Juhniyah, lelaki badui, dan Yahudi yang berzina lalu dirajam oleh
pemerintahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kewajiban
tegaknya syariat rajam telah disepakati oleh para ulama (ijma’).[3]
2. Hukuman pezina ghairu muhsan (غَيْرُ
مُحْصَن), hukumannya ada dua jenis. Pertama: Ialah hukuman cambuk/dera
sebanyak seratus kali dera sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an, hukuman
inipun disepakati oleh para ulama.
Kedua: Ialah hukuman
pengasingan selama kurun waktu satu tahun. Akan tetapi hukuman ini
diperselisihkan oleh para ulama atas siapakah dijatuhkan hukumannya. Menurut
madzhan Hanafi, keputusan hukuman pengasingan diserahkan pada kebijakan hakim.
Menurut madzhab Maliki, hukuman pengasingan hanya bagi pezina laki-laki yang ghairu
muhshan, tanpa wanita ghairu muhshan. Sedangkan menurut madzhab mayoritas (jumhur),
hukuman pengasingan ialah hukuman bagi pezina yang
muhshan baik laki-laki maupun perempuan.
Syarat Ditegakkan Hukuman Zina
Untuk diberlakukannya hukuman zina baik
berupa pukulan cambuk, rajam atau pengasingan disebutkan dalam kitab
Tabshiratul Hukkam karya Ibnu Farhun harus terpenuhinya 7 syarat:
1. Baligh. Maka anak kecil tidak dihukum meskipun kuat melakukan
jima’, sedangkan lelaki yang baligh dihukum jika mempraktikkannya terhadap anak
perempuan yang belum baligh.
2. Berakal. Maka orang gila tidak dihukum, sedangkan lelaki berakal
dihukum jika mempraktikkannya terhadap orang gila.
3. Islam. Maka orang Nasrani tidak dihukum, melainkan dikembalikan
kepada pemuka agama mereka. Akan tetapi jika melakukannya dengan
lantang/terang-terangan maka dihukum.
4. Kerelaan. Maka orang yang dipaksa/diperkosa tidak dihukum dan
mendapatkan ganti rugi.
5. Ilmu. Yaitu pelaku mengetahui keharaman praktik zina.
6. Zina pada kemaluan anak Adam. Maka tidak ada hukuman had
jika dilakukan antara dua paha, atau masturbasi, akan tetapi tetap mendapatkan
hukuman yang sesuai.
7. Muhsan. Yaitu pelaku yang sudah tergolong muhsan maka bisa
dijatuhkan atasnya hukuman rajam. [5]
Katujuh syarat di atas jika dipenuhi maka
dijatuhkan atas pelaku hukuman had oleh pihak yang berwenang (ulil amri/pemerintah).
Sebagian ulama menyebutkan syarat-syarat lain, seperti Imam Al Mawardi yang
menyebutkan 6 syarat ditegakkan hukuman pelaku zina dalam kitabnya Al Hawi Al
Kabir. [6]
Hukuman atas tindakan zina tidak akan
ditegakkan kecuali melalui dua jalur persaksian yaitu:
1. Persaksian empat orang merdeka (bukan budak), bisa dipercaya (adil).
Yaitu persaksian keempatnya atas masuknya kemaluan pelaku praktik zina pada
kemaluan yang lain. Jika kurang dari empat saksi, zina bukan pada kemaluan,
kurangnya syarat pada saksi atau terdapat syubhat (keraguan) maka hukuman had
tidak ditegakkan.
2. Atau pengakuan sebanyak empat kali pengakuan dari pelaku praktik
zina sendiri atas tindakannya. Jika ia mengakuinya sebanyak empat kali, maka
hukuman had zina ditegakkan atas dirinya, dan pengakuan itu tidak bisa
dicabut hingga hukuman ditegakkan. [7]
Referensi:
[1] Mausu’atul Ijma’ Fil Fiqh Al Islami. Darul
Fadhilah Linnasyri Wat Tauzi. Riyadh. Kerajaan Arab Saudi. Cetakan 1 1433 H –
2012 M. 9/262.
[2] Muhammad bin Qasim Al Anshary. Syarah Hudud Ibnu Arafah Lirrasha’. Al
Maktabah Al Ilmiah. Cetakan I. 1350 H. Hal: 492.
[3] Mausu’atul Ijma’ Fil Fiqh Al Islami. Darul Fadhilah Linnasyri Wat Tauzi.
Riyadh. Kerajaan Arab Saudi. Cetakan 1 1433 H – 2012 M. 9/266.
[4] Mausu’atul Ijma’ Fil Fiqh Al Islami. Darul Fadhilah Linnasyri Wat Tauzi.
Riyadh. Kerajaan Arab Saudi. Cetakan 1 1433 H – 2012 M. 9/266.
[5] Ibnu Farhun. Tabshiratul Hukkam fi Ushulil Aqdhiyati Wa Manahijul Ahkam.
Maktabatul Kulliyat Al Azhariyah. Cetakan I 1406 H/1986 M. 2/255.
[6] Abul Hasan Al Mawardi. Al Hawi Al Kabir. Darul Kutub Al Ilmiah – Beirut –
Lebanon. Cetakan I 1419 H/1999 M. 13/221.
[7] Ibnu Aqil Al Hanbaly. At Tadzkirah Fil Fiqh. Dar Isbilya – Riyadh –
Kerajaan Arab Saudi. Cetakan I 1422 H/2001 M.
Diterjemahkan dan disusun di Banjararum,
Singosari, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Jumat 13 Dzulhijjah 1442 H (23 Juli 2021 M)
Oleh: Iskandar
Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
larangan zina dosa zina ayat zina
dosa zina hadis zina hukum zina hukum pacaran dalam Islam apa boleh pacaran apa
boleh zina

Komentar
Posting Komentar