Langsung ke konten utama

Batas Minimal dan Maksimal Mahar Pernikahan

 


Mahar adalah sesuatu yang diwajibkan bagi laki-laki untuk diberikan kepada wanita untuk dinikahi, dikawini atau sebagai ganti hilangnya keperawanan. [1]

Batas Minimal Mahar

Ada tiga mazhab para ulama mengenai batas minimal mahar pernikahan:

1.      Mazhab Hanafiyyah.

Mahar minimal pernikahan dalam mazhab Hanafiyah adalah sepuluh dirham perak, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

لاَ مَهْرَ أَقَلُّ مِنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ

“Tidak ada mahar yang lebih sedikit dari sepuluh dirham (perak).” (HR. Baihaqy no. 14388, dhoif)

Juga diqiyaskan dengan kadar nishab pencurian; yang menurut pendapat mereka (mazhab Hanafiyyah) adalah 10 dirham. Tujuannya untuk menampakkan kedudukan mulia perempuan, sehingga mahar ditetapkan demikian atas dasar kemuliaan akad pernikahan.

Sedangkan perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mahar yang lebih sedikit dari itu,

التَمِسْ وَلَوْ خَاتِماً مِنْ حَدِيْدٍ

“Berusahalah walaupun dengan (mahar) cincin besi.” (HR. Bukhari no. 5135 & An Nasa’i no. 3359, sohih)

Mereka menjadikannya untuk mahar awal, yang diberikan di depan sebelum nanti dilunasi seluruhnya; karena menurut adat kebiasaan ialah mengedepankan pemberian mahar sebelum masuk (kawin) dengan sang wanita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah melarang Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengawini putrinya Fatimah radhiyallahu ‘anha hingga memberikan kepadanya sesuatu. Ali berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ لِيْ شَيْءٌ، فَقَالَ: أَعْطِهَا دِرْعَكَ، فَأَعْطَاهَا دِرْعَهُ

“Hai Rasulullah, aku tidak memiliki apapun.” Maka beliau besabda, “Berikanlah kepadanya perisaimu.” Maka Ali-pun memberikannya. (HR. Abu Daud no. 2126 & An Baihaqy no. 14462, sohih)

2.      Mazhab Malikiyah.

Mahar minimal pernikahan dalam mazhab Malikiyah adalah seharga seperempat dinar emas, atau tiga dirham perak murni, boleh juga barang suci tidak najis lain yang setara dengan harganya. Barang itu bisa dipergunakan untuk transaksi secara syar’i, baik berupa benda, hewan atau properti, bisa dimanfaatkan secara syar’i, halal, tidak seperti alat senda gurau (yang haram). Mahar itu harus mampu diserahkan kepada istri, jelas kadar, jenis dan usianya.

Dalil dari pendapat ini adalah; karena mahar wajib diberikan untuk menikahi wanita sebagai bentuk penghormatan kepada wanita dan kedudukannya yang mulia, maka tidak boleh kurang dari kadar itu, dan inilah kadar nishab pencurian pada mazhab Malikiyah, yang menunjukkan bahayanya perkara ini.

Jika seorang lelaki menikahi perempuan dengan harga mahar lebih sedikit daripada kadar yang disebutkan di atas, kemudian masuk (mengawininya), maka dia wajib membayar mahar tersebut. Dan jika belum masuk (mengawininya), dia beri pilihan untuk menyempurnakan pemberian mahar, atau membatalkan akad pernikahan.

3.      Mazhab Syafi’iyyah dan Hanabilah.

Syafi’iyyah dan Hanabilah tidak memberikan batas minimal untuk harga mahar pernikahan, maka sah saja jika wanita diberi mahar dengan harta sedikit maupun banyak. Patokannya adalah: Segala sesuatu yang bisa diperjual belikan, memiliki harga, atau bermanfaat maka sah dijadikan mahar, sedangkan yang tidak bisa, maka tidak sah, misalnya: Wanita dinikahi dengan diberi mahar sebuah biji atau kerikil, maka akad itu tidak sah, dan harus membayar dengan mahar harga normal.

Dalil mereka adalah firman Allah ta’ala,

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

“Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa: 24)

Ayat di atas disebutkan secara mutlak, syariat tidak mengikat batasan mahar dengan suatu patokan harga. Juga berdalil dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika didatangi seorang laki-laki dan perempuan yang ingin menikah namun tidak memiliki apa-apa,

التَمِسْ وَلَوْ خَاتِماً مِنْ حَدِيْدٍ

“Berusahalah walaupun dengan (mahar) cincin besi.”

فَلَمْ يَجِدْ فَقَالَ: أَمَعَكَ مِنَ القُرْآنِ شَيْءٌ؟ قَالَ نَعَمْ سُوْرَة كَذَا سَوْرَة كَذَا لِسُوَرٍ سَمَّاهَا، فَقَالَ: زَوَّجْنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القَرْأَنِ

“Akan tetapi (si lelaki) belum menemukan, maka Nabi berkata: “Apakah bersamamu (hafalan) Al Qur’an?” Dia menjawab: “Iya, surat ini, surat ini...” dengan menyebut beberapa nama surat, maka Nabi bersabda: “Kami menikahkanmu dengan Al Qur’an yang ada bersamamu.” (HR. Bukhari no. 5135 & An Nasa’i no. 3359, sohih)

Hadis di atas menunjukkan bahwa mahar tetap sah dengan segala sesuatu yang bisa disebut sebagai harta atau memiliki manfaat. Dalam hadis lain, ada seorang wanita dari kabilah Fazarah dinikahi seorang lelaki dengan mahar sepasang sandal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada wanita yang hendak dinikahi,

أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، فَأَجَازَهُ

“Apakah kamu ridha, untuk harta dan dirimu dengan sepasang sandal?” Dia (wanita itu) berkata: “Iya.” Maka Rasul memperbolehkan (menikahi)nya. (HR. Ibnu Majah no. 13789, Tirmidzi no. 1113, & Ahmad no. 15679, hasan) [2]

Dan inilah pendapat yang rajih (lebih kuat) - wallahu a’lam – karena dalil-dalil sahih yang kuat. Sehingga mahar berlaku sah dengan segala sesuatu yang disebut harta, bermanfaat, atau yang setara dengannya, selama kedua mempelai saling ridha. Bahkan mahar tetap sah dengan sesuatu yang bukan materi, melainkan maknawi, namun terdapat di dalamnya manfaat, dengan itu menunjukkan tanda keseriusan dan kejujuran akad pernikahan. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza’i, Al Laits, Ibnul Musayyib dan yang lainnya rahimahumullah.

Diantara dalil lain yang memperkuat tidak adanya batas minimal mahar selain ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan seorang laki-laki dengan hafalan Al Qur’annya sebagai mahar, beliau pernah menikahkan sahabat Nabi Abu Talhah dengan sahabiyah Ummu Sulaim, maharnya adalah masuknya dia (lelaki) ke dalam agama Islam, serta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menikahi Sofiah dengan pembebasannya dari perbudakan sebagai mahar, radhuyallahu ‘anhum. Dengan mahar-mahar maknawi tersebut, sang wanita bisa mengambil manfaat darinya, yaitu dari hafalan Al Qur’an, ilmu agama, islamnya sang suami, atau kebebasan dari perbudakan. [3]

Batas Maksimal Mahar

Tidak ada batasan maksimal harga mahar, semua ulama bersepakat tanpa perbedaan di antara mereka akan tidak adanya batas mahar maksimal yang harus diberikan oleh lelaki kepada wanita yang dinikahi. [4]

Syeikhul Islam ibnu Taimiyyah berkata:

وَمَنْ كَانَ لَهُ يَسَارٌ وَوَجَدَ فَأَحَبَّ أَنْ يُعْطِيَ امْرَأَتَهُ صَدَاقًا كَثِيرًا فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَآتَيْتُمْ إحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا}. أَمَّا مَنْ يَشْغَلُ ذِمَّتَهُ بِصَدَاقِ لَا يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَوْ يَعْجِزُ عَنْ وَفَائِهِ: فَهَذَا مَكْرُوهٌ

“Siapa yang memiliki kemudahan dan kecukupan, lalu dia senang kalau memberi mahar banyak kepada wanitanya, maka itu tidak apa-apa, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang itu sedikitpun” (QS. An Nisa’: 20). Sedangkan dia yang harus repot dengan tanggungannya karena mahar padahal dia tidak menginginkan memberi (dengan harta itu) maka (hukumnya) makruh.” [5]

Diterjemahkan, disusun & diringkas dari:

[1] Dr. Mahmud Abdurrahman Abdul Mun’im. Mu’jam Al Mustalahat Wal Alfadz Al Fiqhiyyah. Darul Fadhilah. 3/370.

[2] Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaily. Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu. Darul Fikr – Suriah. 9/6766.

[3] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Sahih Fiqih Sunnah Wa Adillatuhu Wa Taudih Madzahib Al Arba’ah. Al Maktabah At Taufiqiyyah – Cairo – Mesir. Cetakan 2003 M. 3/163.

[4] Abu Bakar Ali Muhammad Al Mawardi. Al Hawi Al Kabir. Darul Kutub Al Ilmiah – Beirut – Lebanon. Cetakan 1 tahun 1419 H/1999 M. 9/400. Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Sahih Fiqih Sunnah Wa Adillatuhu Wa Taudih Madzahib Al Arba’ah. Al Maktabah At Taufiqiyyah – Cairo – Mesir. Cetakan 2003 M. 3/163.

[5] Taqiuddin Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyyah. Majmu’ Al Fatawa. Mujamma’ Malik Fahd Percetakan Mushaf Madinah – KSA. Cetakan tahun 1416 H/1995M. 32/195.

Di Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia
Rabu 7 Shawwal 1443 H (8 Mei 2022 M)

Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com

Berapa harga mahar dalam islam berapa jumlah mahar mahar kawin mahar nikah mahar pernikahan mahar perkawinan mahar paling sedikit mahar paling banyak mahar minimal mahar maksimal mahar akad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemuliaan Kota Makkah

  Kota Makkah Al Mukarramah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan tempat terbaik di muka bumi, negeri yang paling dicintai Allah s.w.t. Makkah tempat kelahiran Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tumbuh besar di sana hingga dewasa. Di kota ini turun wahyu pertama kepada sang Nabi melalui perantara malaikat Jibril kepadanya di Gua Hira. Cahaya Islam-pun bermula terpancar dari Makkah Al Mukarramah, lalu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah s.w.t. berfirman, وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَاۚ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ وَهُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ يُحَافِظُونَ “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luarnya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat t...

Bolehkah Pegawai Menerima Hadiah dari Klien?

  Penjelasan Hadis Ghulul Ghulul ( الغُلُوْلُ ) dalam artian khusus bermakna: “Mengambil harta rampasan perang (ghanimah) secara tersembunyi sebelum waktu pembagiannya”, dapat pula diartikan secara umum, ghulul ialah: “Perbuatan khianat pada urusan harta”. Memberi hadiah kepada pegawai yang bekerja pada instansi negara maupun swasta juga termasuk ghulul, jika hadiah tersebut diberikan atas dasar jabatan yang pegawai emban, bukan hadiah yang diberikan atas dasar hubungan status kekeluargaan, persahabatan atau hubungan kedekatan lainnya. [1] Syeikh Salih bin Fauzan rahimahullah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, هَدَايَا الْعمَّال غلُول “Hadiah para pegawai ialah ghulul” (HR. Ahmad) Ia menjawab: “Iya, hadiah ini termasuk suap, maksud dari ( العُمَّال ) ialah pegawai yang bekerja (pada sebuah tempat). Maka tidak boleh dia menerima hadiah dari klien/nasabah/pengunjung atau siapapun yang memiliki urusan, termasuk pula bagi mereka yang bertugas mengumpul...

Keutamaan Kota Madinah

  Kota Madinah Al Munawwarah yang terletak di Jazirah Arab ini merupakan ibu kota pertama pilihan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umat Islam. Kota ini merupakan tempat turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad, turunnya malaikat Jibril kepadanya, kekhalifahan pertama berdiri, bertemunya kaum Muhajirin dan Anshar, jihad pertama ditegakkan, sumber teresbarnya cahaya hidayah, rumah hijrah Nabi beserta para sahabatnya, di sanalah beliau hidup hingga akhir hayatnya, di sanalah beliau dikubur dan akan dibangkitkan kembali shallallahu ‘alaihi wasallam . Kota Madinah dianugerahi keutamaan dan kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan berbagai kekhususan, diantaranya: 1.       Madinah Tempat Terbaik di Muka Bumi setelah Mekah. Kota Madinah yang diberkahi dan dimuliakan oleh Allah ini merupakan termpat terbaik setelah Kota Mekah, sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diusir oleh kaum kafir Quraisy ...