Langsung ke konten utama

Kemuliaan Masjidil Aqsha Pelestina

 


Masjidil Aqsha ialah salah satu masjid utama yang paling dimuliakan dalam Islam, diberkati dan memiliki kedudukan tinggi pada jiwa kaum muslimin. Masjidil Aqsha dispesialkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah dengan kekhususan yang banyak serta keutamaan-keutamaan yang menunjukkan betapa tinggi dan mulia derajat kedudukannya, diantaranya:

1.      Masjid yang diberkati.

Masjidil Aqsha ialah masjid yang diberkati begitu pula sekelilingnya, maka keberkahannya berlipat ganda. Kalau hanya dengan kekhususan ini saja, sejatinya sudahlah cukup menunjukkan kemuliaannya. Allah ta’ala berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra’: 1)

2.      Masjid yang disucikan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al Maidah: 21)

3.      Tempat hijrah, tinggal dan wafat para Nabi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. Al Anbiya’: 71)

Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah negeri Syam, termasuk di dalamnya Palestina. Tuhan memberkahi negeri itu artinya: kebanyakan Nabi berasal dan negeri ini dan tanahnyapun subur. Allah juga berfirman,

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Anbiya’: 81)

4.      Tempat Isra’ & Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ، قَالَ: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ. قَالَ: فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ التي يربط بها الْأَنْبِيَاءُ. قَالَ: ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ

“Buraq didatangkan kepadaku, ia adalah hewan putih panjang, (ukurannya) di atas keledai dan di bawah bagal. Kukunya berada pada ujung jarinya. Nabi berkata: Lalu aku naikinya sampai ke Baitul Maqdis. Nabi berkata: Maka aku ikat ia dengan rantai yang dipakai oleh para Nabi. Nabi berkata: Kemudian kumasuki masjid, lalu shalat dua rakaat lalu keluar.” (HR. Muslim no. 162)

5.      Kiblat pertama kaum muslimin.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بمكة نحو بيت المقدس، والكعبة بين يديه، وبعدما هاجر إلى المدينة ستة عشر شهرًا، ثم صُرف إلى الكعبة

“Dulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Mekah menghadap Baitul Maqdis, sedangkan Ka’bah berada di depannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah selama 16 bulan, beliau alihkan (kiblat) ke Ka’bah.” (HR. Ahmad no. 2991, sohih)

6.      Masjid kedua yang dibangun di muka bumi.

Sahabat Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلَ؟ قَالَ: المَسْجِدُ الحَرَامُ، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: المَسْجِدُ الأَقْصَى، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ، فَإِنَّ الفَضْلَ فِيهِ

“Aku berkata: “Hai Rasulullah! Masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi?” Nabi menjawab: “Masjidil Haram”. Aku bertanya (lagi): “Lalu apa?” Nabi menjawab: “Masjidil Aqsa”. Aku bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Nabi berkata: “Empat puluh tahun, lalu dimanapun Engkau dapati waktu shalat, maka shalatlah, karena keutamaan ada padanya.”” (HR. Bukhari no. 3366 & Muslim no. 520)

7.      Masjid ketiga yang boleh diziarahi untuk ibadah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidaklah boleh bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari no. 1189 & Muslim no. 1397)

8.      Menziarahinya dengan niat shalat ialah penghapusan dosa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ عليه السلام سَأَلَ اللَّهَ ثَلاَثًا، فَأَعْطَاهُ اثْنَتَيْنِ، وَنَحْنُ نَرْجُو أَنْ تَكُونَ لَهُ الثَّالِثَةُ؛ فَسَأَلَهُ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ، فَأَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ، وَسَأَلَهُ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَسَأَلَهُ أَيُّمَا رَجُلٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ خَرَجَ مِنْ خَطِيئَتِهِ مِثْلَ يَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ، فَنَحْنُ نَرْجُو أَنْ يَكُونَ اللَّهُ ﮎ قَدْ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Sesungguhnya Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam meminta kepada Allah tiga hal, maka dikabulkan kepadanya dua, dan kami berharap dikabulkan kepadanya yang ketiga (juga). Dia meminta hukum yang sesuai dengan hukumNya, maka Allah kabulkan. Dia meminta kekuasaan/kerajaan yang tidak boleh dimiliki oleh siapapun setelahnya, maka Allah kabulkan. Dia meminta kepada Allah supaya jika seseorang keluar dari rumahnya lalu tidak berniat kecuali shalat di masjid ini (Masjidil Aqsha) maka lunturlah dosanya seperti hari dia dilahirkan dari perut ibunya. Dan kami berharap Allah mengabulkan doanya.” (HR. Ahmad no. 6644, sohih)

9.      Shalat di Masjidil Aqsha pahalanya berlipat ganda.

Sahabat Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

تذاكرنا ونحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلنا: أيهما أفضل: مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أو مسجد بيت المقدس؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صَلاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى

“Kami mengingat suatu ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami bertanya: “Manakah yang lebih afdhol, Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah Masjid Al Muqaddas?” Rasulullah menjawab: “Shalat di masjidku ini empat kali lebih baik daripada shalat di dalam sana, dan itulah sebaik-baiknya tempat shalat.” (HR. Hakim no. 8600, sohih)

Artinya, shalat di Masjid Nabawi lebih baik 4 kali lipat daripada shalat di Masjidil Aqsha, sedangkan shalat di Masjid Nabawi berpahala 1000 kali shalat di masjid selainnya, maka shalat di Masjidil Aqsha berpahala 250 kali shalat di masjid selainnya. [1]

10.  Dajjal tidak akan memasuki Masjidil Aqsha.

Sahabat Janadah bin Umayyah Al Azdiyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ذهبت أنا ورجل من الأنصار إلى رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فقلنا: حدثنا ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكر في الدجال، ولا تحدثنا عن غيره وإن كان مصدقًا، قال: خطبنا النبي صلى الله عليه وسلم فقال: «أَنْذَرْتُكُمُ الدَّجَّالَ- ثَلَاثًا -، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا قَدْ أَنْذَرَهُ أُمَّتَهُ، وَإِنَّهُ فِيكُمْ أَيَّتُهَا الْأُمَّةُ، وَإِنَّهُ جَعْدٌ آدَمُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ، فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ، وَمَعَهُ جَبَلٌ مِنْ خُبْزٍ وَنَهْرٌ مِنْ مَاءٍ، وَإِنَّهُ يُمْطِرُ الْمَطَرَ وَلَا يُنْبِتُ الشَّجَرَ، وَإِنَّهُ يُسَلَّطُ عَلَى نَفْسٍ فَيَقْتُلُهَا وَلَا يُسَلَّطُ عَلَى غَيْرِهَا، وَإِنَّهُ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، يَبْلُغُ فِيهَا كُلَّ مَنْهَلٍ، وَلَا يَقْرَبُ أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ: مَسْجِدَ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدَ الْمَدِينَةِ، وَمَسْجِدَ الطُّورِ، وَمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَمَا يُشَبَّهُ عَلَيْكُمْ، فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“Tahukah kalian Dajjal? - beliau ulangi sebanyak tiga kali - Tidak ada Nabi setelahku kecuali telah memperingatkan umatnya akan dia, dan dia (Dajjal) ada pada kalian wahai umat! Sungguh dia rambutnya keriting, kulitnya hitam, mata kirinya terhapus, memiliki kebun dan api, maka apinya ialah kebun, kebunnya ialah api, bersamanya gunung roti dan sungai air.  Sungguh dia menurunkan hujan namun tidak menumbuhkan pohon. Sungguh dia menguasai jiwa dan membunuhnya dan tidak menguasai selainnya. Sungguh dia menetap di bumi selama 40 pagi, sampai kepada semua padang. Dia tidak mendekati 4 masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Thur, dan Masjidil Aqsha. Dan dia tidak dikaburkan atas kalian, dan Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ahmad no. 23685, sohih)

11.  Ya’juj & Ma’juj binasa di Masjidil Aqsha.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika menyebutkan Ya’juj & Ma’juj,

ثُمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ الْخَمَرِ -وَهُوَ جَبَلُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ- فَيَقُولُونَ: لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي الْأَرْضِ، هَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، فَيَرْمُونَ بِنُشَّابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ، فَيَرُدُّ  اللَّهُ عَلَيْهِمْ نُشَّابَهُمْ مَخْضُوبَةً دَمًا

“… Kemudian mereka berjalan hingga sampai ke gunung Khamar - yaitu gunung Baitul Muqaddas - dan mereka berkata: “Kami telah membunuh yang di bumi, ayo kita bunuh yang di langit” Lalu mereka tembakkan dengan panah mereka ke atas langit, maka Allah mengembalikan panah mereka hingga mereka berlumuran darah (mati) ...” (HR. Muslim no. 2937)

12.  Semua keutamaan bumi Syam, maka termasuk Masjidil Aqsha.

Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan bumi Syam, diantaranya sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

الشَامُ أَرْضٌ المَحْشَرِ والمَنْشَرِ

“Syam ialah bumi mahsyar dan mansyar.” (HR. Ahmad & Albani, sohih)

Mahsyar ialah tempat dikumpulkannya makhluk pada hari kiamat, mansyar ialah tempat dikembalikannya arwah kepada makhluk setelah kematian mereka kelak.

Referensi:

[1] Syeikh Nashiruddin Al Albani, Attsamar Al Mustathab fi Fiqhis Sunnah Wal Kitab. 2/549.

Diterjemahkan dan diringkas di Banjararum, Singosari, Malang, Indonesia
Ahad, 4 Syawal 1442 H (16 Mei 2021 M)

Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.

Artikel hukumpolitiksyariah.com

ayat tentang masjidil aqsha hadits tentangn masjidil aqsha ayat palestina bebaskan palestina lawan israel ayat israel siapa israel siapa zionisme tujuan zionisme palestina milik siapa masjidl aqsha milik kaum muslimin sejarah palestina sejarah masjidil aqsha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Homoseksual dan Hukumannya

  Homoseksual ( Al Liwath - اللِوَاط ) maksudnya ialah perbuatan keji dan haram yang dilakukan oleh lelaki, kepada sesama jenis lelaki, perbuatan ini pertama kali dilakukan oleh kaumnya Nabi Luth a.s. [1] Allah s.w.t. berfirman, وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ ‌شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١ 80. Dan (Kami telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?" 81. Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, sungguh kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’raf: 80-81) Hukuman Pelaku Homoseksual Menurut Para Ahli Fiqih Para ulama sepakat bahwa homoseksual atau semacamnya merupakan per...

Apakah Istri Wajib Menyapu, Mencuci dan Memasak?

  Baik suami maupun istri, keduanya memiliki hak dan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata'ala, mulai dari urusan ketika tetap menjaga ikatan tali pernikahan, hingga perkara setelah perceraian. Kedua belah pihak pasutri wajib menunaikan kewajiban kepada pasangannya dengan jiwa yang tulus dan hati yang lapang. Sang istri berhak mendapatkan dua nafkah: Nafkah dari sang suami berupa harta dengan jumlah yang ma'ruf (sesuai dengan adat atau kebiasaan yang diakui di negeri setempat). Istri juga berhak mendapatkan nafkah badan, yaitu menggauli dan mencampurinya ( jima' ) dengan cara yang patut. Umat Islam telah sepakat ( ber-ijma' ) jika suami tidak mau menggauli istrinya (sama sekali) maka keduanya boleh dipisah (cerai). Demikian pula jika suami terpotong kemaluannya atau tidak memiliki kekuatan syahwat (impotensi) yang menjadikannya tidak mampu menggauli istri, karena menggaulinya merupakan perkara yang diwajibkan oleh mayoritas ulama, sebagaimana diseb...

Kitab Penting Hukum & Politik Syariah

Dasar dari Hukum & Politik Syariah adalah Al Qur'an dan As Sunnah (Teladan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan Khulafaurrasyidin radhiyallahu 'anhum). Kendati demikian seorang muslim memerlukan arahan supaya bisa memahami dengan baik dan benar kedua pusaka suci ini. Petunjuk ulama ada yang bersumber dari lisan dan ada pula yang tertuang dalam kitab-kitab berbentuk coretan pena bersama tinta emas mereka. Terdapat banyak sekali kitab Islami tentang Ilmu Hukum & Politik Syariah yang menjadi rujukan kaum muslimin sejak masa lampau hingga sekarang, terutama kitab para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah terdahulu ( salaf ) seperti kitab Al-Kharaaj karya Imam Abu Yusuf Al-Hanafi (w: 182 H), kitab Aqdhiyaturrasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam karya Imam Al-Qurtubi (w: 497 H), Ahkaam Ahli Dzimmah karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (w: 751), dan masih banyak kitab penting lainnya. Kendati demikian ada tujuh kitab yang disyaratkan oleh pihak Universitas Islam Madin...