Kota Madinah Al Munawwarah yang terletak
di Jazirah Arab ini merupakan ibu kota pertama pilihan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam untuk umat Islam. Kota ini merupakan tempat turunnya wahyu
kepada Nabi Muhammad, turunnya malaikat Jibril kepadanya, kekhalifahan pertama
berdiri, bertemunya kaum Muhajirin dan Anshar, jihad pertama ditegakkan, sumber
teresbarnya cahaya hidayah, rumah hijrah Nabi beserta para sahabatnya, di
sanalah beliau hidup hingga akhir hayatnya, di sanalah beliau dikubur dan akan
dibangkitkan kembali shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kota Madinah dianugerahi keutamaan dan
kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan berbagai kekhususan, diantaranya:
1. Madinah Tempat Terbaik di Muka Bumi setelah Mekah.
Kota Madinah yang diberkahi dan
dimuliakan oleh Allah ini merupakan termpat terbaik setelah Kota Mekah,
sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
ketika diusir oleh kaum kafir Quraisy supaya berhijrah ke Madinah. Beliau
bersabda,
وَاللَّهِ
إِنَّكِ، لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَيَّ،
وَاللَّهِ لَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ، مَا خَرَجْتُ
“Demi Allah, Sungguh Engkau (Mekah)
adalah bumi Allah yang terbaik, dan merupakan tanah yang paling aku cintai.
Demi Allah, kalau saja aku tidak diusir darimu, aku tidak akan keluar.” (HR.
Tirmidzi, Ibnu Majah, sohih)
2. Allah Menjadikan Madinah Tanah Haram (Tanah Suci).
Maksud dari tanah haram ialah: setiap
manusia yang masuk ke dalamnya terjamin keamanan baginya, aman agamanya,
jiwanya, hartanya, dan kehormatannya. Di tanah haram, dilarang membunuh
manusia, berperang, berburu hewan, menebang/mencabut pohon dan tanaman yang
tumbuh secara alami, dilarang mengambil barang temuan yang tertinggal, bahkan
pesawat terbang dilarang melintas di atasnya, sehingga terjamin keamanan bagi
siapapun yang berada di tanah suci ini.
Allah menjadikan Kota Madinah tanah haram
dan aman sebagaimana menjadikan Kota Mekah tanah haram dan aman, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ، وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ، مَا بَيْنَ
لَابَتَيْهَا لَا يُقْطَعُ عِضَاهُهَا، وَلَا يُصَادُ صَيْدُهَا
“Sesungguhnya (Nabi) Ibrahim menjadikan Mekah
tanah haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah tanah haram. Apa yang ada
di antara kedua Labahnya (padang batu hitamnya) tidak boleh ditebang
pohonnya, dan tidak boleh diburu binatangnya.” (HR. Muslim, sohih)
Allah subhanahu wata’ala
mengkhususkan dua tanah suci Mekah dan Madinah tanpa selainnya. Tidak ada dalil
kuat yang menyucikan tanah selain tanah Mekah dan Madinah, sedangkan Masjidil
Aqsha tidak termasuk tanah suci, melainkan lebih tepat disebut sebagai masjid
ketiga dari dua masjid suci, atau masjid yang diagungkan untuk salat di
dalamnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَا تُشَدُّ
الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ؛ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ،
وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Janganlah bersengaja melakukan perjalanan
(dalam rangka ibadah, meyakini fadilahnya dan tujuan safarnya adalah tempatnya)
kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), masjidil Haram dan
Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari & Muslim)
3. Madinah Dijuluki Thaibah atau Thabah (Kebaikan).
Allah subhanahu wata’ala begitu
pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nama Thaibah
atau Thabah untuk kota Madinah, yaitu sebuah kata yang diserap dari kata
Thoyyib, berarti kebaikan. Beliau bersabda,
إِنَّ
اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً
“Sesungguhnya Allah memberikan nama Thabah
untuk Madinah (kebaikan).” (HR. Muslim, sohih)
4. Madinah Tempat Kembalinya Iman.
Madinah adalah tempat Iman kembali,
maksudnya, Iman menuju kepadanya, sedangkan kaum muslimin mendatangi kota ini
karena Iman yang ada pada hati mereka, didasari rasa cinta kepadanya dan
mengharap keberkahan dari tempat yang telah disucikan oleh Allah ‘azza wa
jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ
الإِيْمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى المَدِيْنَةِ كَمَا تَأْرِزُ الحَيَّةُ إِلَى
جُحْرِهَا
“Sesungguhnya Iman kembali ke Madinah
sebagaimana ular kembali kepada sarangnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
5. Madinah Kota Kemenangan.
Diantara sifat yang disematkan oleh Nabi
Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kota Madinah adalah adalah “negeri
yang memakan negeri”, maksudnya dari sanalah bermula kejayaan kaum muslimin.
Dari Kota Madinah banyak lahir para ulama salih muslihin dan para mujahid
pemberani, mereka berjuang untuk agama Allah, bersama mereka Islam tersebar ke
berbagai penjuru dunia; untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah
menuju cahaya ilmu yang terang benderang atas ijin Allah. Rasulullah bersabda,
أُمِرْتُ
بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ القُرَى – يَعْنِيْ: أُمِرَ بِالهِجْرَةِ إِلَى هَذِهِ
القَرْيَةِ التِيْ تَأْكُلُ القُرَى – يَقُوْلُوْنَ لَهَا: يَثْرِبُ، وَهِيَ
المَدِيْنَة
“Aku diperintahkan untuk ke negeri/desa
yang memakan negri – maksudnya diperintahkan untuk berhijrah menuju negri yang
memakan negri – mereka menyebutnya Yatsrib, dan dia adalah Madinah.” (HR.
Bukhari & Muslim)
6. Bersabar Menetap di Madinah Lebih Baik.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam mengajak untuk bersabar atas kesulitan yang bisa terjadi di Kota
Madinah. Beliau berpesan kepada para sahabat ketika hendak pindah dari Madinah di
masa awal Islam menuju daerah lain yang sekiranya lebih makmur, banyak hartanya
dan sejahtera, beliau bersabda,
الْمَدِينَةُ
خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ، لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا
إِلَّا أَبْدَلَ اللهُ فِيهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ، وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى
لَأْوَائِهَا وَجَهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا، أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“Madinah ini lebih baik bagi mereka jika
saja mereka mengetahui. Ketika seseorang meninggalkannya karena tidak suka,
pasti Allah menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Tidaklah seseorang
menetap dan bersabar atas kesulitan dan beban padanya, kecuali aku (Muhamamd)
akan menjadi pemberi syafaat baginya, atau menjadikannya syahid pada hari
kiamat.” (HR. Muslim, sohih)
7. Perbuatan Munkar, Zalim atau Bid’ah di Madinah Lebih
Berbahaya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam menjelaskan akan besarnya bahaya atas seseorang ketika berbuat
haram di tanah suci Madinah, beliau bersabda,
الْمَدِينَةُ
حَرَمٌ، مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى كَذَا، مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ
آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ، لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ
“Madinah ialah haram (suci), mulai dari (daerah)
‘Air hingga Tsaur. Barangsiapa yang berbuat suatu hadats (munkar, zalim atau
bid’ah), atau melindungi sesuatu yang hadas, maka menimpa atasnya laknat Allah,
malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak menerima tebusan darinya.” (HR.
Bukhari & Muslim)
8. Doa Nabi dengan Keberkahan untuk Madinah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam mendoakan Kota Madinah dengan keberkahan, beliau bersabda,
اللَّهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ
لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا
“Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan bagi
kami pada buah-buahannya, berkahilah bagi kami pada Madinah kami, berkahilah
bagi kami pada sha’nya, berkahilah bagi kami pada mudd-nya [2].” (HR. Bukhari
& Muslim)
9. Madinah Tidak Dimasuki Dajjal dan Wabah Thaun.
Madinah dijamin tidak dimasuki Dajjal dan
wabah Thaun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَلَى
أَنْقَابِ المَدِيْنَةِ مَلاَئِكَةٌ، لاَ يَدْخُلُهَا الطَاعُوْنُ وَلاَ
الدَجَّالُ
“Pada pintu-pintu gerbang Madinah ada
malaikat (yang menjaga), tidak memasukinya (Madinah) Thaun dan tidak pula
Dajjal.” (HR. Bukhari & Muslim)
10. Pahala Salat di Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi ialah salah satu masjid
yang dibangun oleh para Nabi dan merupakan satu dari tiga masjid yang boleh
dijadikan tujuan safar karena fadilahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
لَا تُشَدُّ
الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ؛ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ،
وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Janganlah bersengaja melakukan
perjalanan (dalam rangka ibadah, meyakini fadilahnya dan tujuan safarnya adalah
tempatnya) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), masjidil Haram
dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari & Muslim)
Salat di Masjid Nabawi lebih baik 1000
kali dari masjid lain, selain Masjidil Haram, baik itu untuk salat fardu maupun
nafilah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
صَلَاةٌ
فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا
الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Salat di madjidku ini seribu kali lebih
baik dari salat di (masjid) lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari
& Muslim)
Dalam hadis ini terdapat fadilah yang
istimewa, jika seseorang mengetahui bahwa barang dagangannya akan mendatangkan
keuntungan sebanyak 10 kali atau 100 kali lipat, dia pasti akan berusaha sekuat
tenaga dan senang gembira ketika memperolehnya, lalu bagaimana jika keuntungan
itu 1000 kali lipat bahkan lebih?
11. Pahala Salat di Masjid Quba seperti Pahala Umrah.
Diantara fadilah yang ada di dalam Kota
Madinah ialah salat di masjid Quba, masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan.
Hal ini berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ
سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا فَيُصَلِّيْ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ
“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu baik dengan berjalan kaki maupun
berkendara, lalu salat di dalamnya dua rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim)
Sedangkan pahala salat fardu ataupun
nafilah di Masjid Quba ialah seperti pahala umrah, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ
صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ
“Siapa yang bertaharah di rumahnya, lalu
mendatangi Masjid Quba dan mendirikan salat dua rakaat, maka pahalanya seperti
pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, sohih)
Hadis tentang keutamaan Kota Madinah masih
banyak sekali, yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja, dan kebanyakan
dijelaskan dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Diantara buku terbaik yang
menjelaskan keutamaan-keutamaan Kota Madinah ialah kitab yang ditulis oleh
Syeikh Dr. Saleh bi Hamid Ar Rifa’i dengan judul:
الأَحَادِيْثُ
الوَارِدَةُ فِيْ فَضَائِلِ المَدِيْنَةِ - جَمْعًا وَدِرَاسَةً -
Referensi:
[1] Abdul Muhsin bin Hamad Al Abbad Al Badr. Fadhlu Al Madinah Wa
Adabu Suknaha Wa Ziaratiha. Darus Suhub – Madinah.
[2] Sha’ dan Mud adalah wadah standar takaran zakat, takaran zakat
fitrah ialah satu sha’.
Diterjemahkan dan diringkas di Universitas Islam Madinah
Kamis, 2 Rajab 1443 H (3 Februari 2022 M)
Oleh: Iskandar Zulqarnain, B.A., M.A.
Artikel hukumpolitiksyariah.com
hadis tentang kota Madinah ayat tentang kota Madinah keistimewaan kota Madinah keistimewaan kota Nabi di Madinah ada apa saja? kemana nabi hijrah? dimanakah ibu kota Islam?

Komentar
Posting Komentar