Manusia biasa pasti pernah melakukan perbuatan dosa, entah itu dosa kecil ataupun besar, dan diantara bentuk dosa besar adalah praktik zina. Kendati demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bagi orang yang berbuat dosa untuk bertaubat, sebagaimana dalam sabdanya,
كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ
الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang
yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat.” (HR. Ahmad no. 13049, Ibnu
Majah no. 4251 & Tirmidzi no. 2499, hasan)
Bahkan Allah subhanahu wata’ala dengan rahmatNya yang
luas mengajak manusia kembali bertaubat dan memberi ampunan bagi siapapun
hamba-Nya yang melakukan perbuatan dosa, sebagaimana firman-Nya,
قُلْ يٰعِبَادِىَ الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ
اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُۥ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha
Pengampun, Maha Penyayang.”” (QS. Az-Zumar: 53)
Berkaitan dengan ayat ini Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan penafsiran ayatnya,
هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ
دَعْوَةٌ لِجَمِيعِ الْعُصَاةِ مِنَ الْكَفَرَةِ وَغَيْرِهِمْ إِلَى التَّوْبَةِ
وَالْإِنَابَةِ، وَإِخْبَارٌ بِأَنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا لِمَنْ
تَابَ مِنْهَا وَرَجَعَ عَنْهَا، وَإِنْ كَانَتْ مَهْمَا كَانَتْ وَإِنْ كَثُرَتْ
وَكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Ayat-ayat ini merupakan seruan kepada segenap para
pendurhaka dari kalangan orang-orang kafir dan lain-lainnya agar bertaubat dan
kembali kepada-Nya. Juga sebagai pemberitahuan bahwa Allah subhanahu
wata’ala mengampuni semua dosa bagi orang yang mau bertaubat kepada-Nya dan
meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya, betapapun banyaknya dosa yang telah
dilakukan, sekalipun banyaknya seperti buih lautan.”[1]
Langkah Bertaubat dari Zina
Hal terpenting bagi para pendosa adalah menyesali perbuatan
dosanya dan berhenti dari perbuatan dosa tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam,
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan adalah hakikat taubat.” (HR. Ahmad no. 3568,
sohih)
Adapun berkaitan dengan dosa zina, maka ada sebuah riwayat hadits
tentang Maiz bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika datang kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertaubat, dia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ طَهِّرْنِي
“Wahai Rasulullah, sucikanlah daku.”
Beliau menjawab,
وَيْحَكَ ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرْ
اللَّهَ وَتُبْ إِلَيْهِ
“Celaka kamu! Pulang dan mintalah ampun kepada Allah, dan
bertaubatlah kepada-Nya.” (HR. Muslim)
Sahabat Maiz melakukan hal ini sampai tiga kali, dan jawaban
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masihlah sama, hingga pengaduan
yang ke empat kalinya baru Rasulullah merespon dan menerima aduan dari Maiz
tersebut. Kasus ini memberikan arti bahwa syarat taubat tidaklah harus mengakuinya
di depan orang lain, melainkan antara dirinya dengan Sang Maha Pengampun Allah subhanahu
wata’ala.
Bahkan dalam kisah sahabat Maiz radhiyallahu ‘anhu
yang diriwayatnya oleh Imam Ahmad, Rasulullah menjelaskan,
هَلَّا تَرَكْتُمُوهُ لَعَلَّهُ
يَتُوبُ فَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Kenapa tidak kalian biarkan saja dia, mudah-mudahan ia
bertaubat sehingga Allah menerima taubatnya."
وَاللَّهِ يَا هَزَّالُ لَوْ كُنْتَ
سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ كَانَ خَيْرًا مِمَّا صَنَعْتَ بِهِ
"Demi
Allah wahai Hazzal, andai kau menutupinya dengan bajumu, tentu lebih baik dari
apa yang kau perbuat terhadapnya." (HR. Ahmad no. 21890, hasan)
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah memberikan
pandangan tentang kejadian ini,
وَيُؤْخَذُ مِنْ قَضِيَّتِهِ: أَنَّهُ
يُسْتَحَبُّ لِمَنْ وَقَعَ فِي مِثْلِ قَضِيَّتِهِ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ
تَعَالَى وَيَسْتُرَ نَفْسَهُ وَلَا يَذْكُرُ ذَلِكَ لِأَحَدٍ
“Berdasarkan kejadian ini (yaitu tentang sahabat Maiz yang
mengaku berzina), bahwasanya dianjurkan bagi orang yang terjatuh ke dalam praktik
zina, agar bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala dan menutupi
kesalahannya sendiri, dan tidak menceritakan hal tersebut kepada siapapun.”[2]
Imam As Syafi'i rahimahullah menyatakan,
أُحِبُّ لِمَنْ أَصَابَ ذَنْبًا
فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَسْتُرَهُ عَلَى نَفْسِهِ وَيَتُوب
“Saya menyukai orang yang pernah terjerumus melakukan
perbuatan dosa lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya
pula dan bertaubat kepada Allah.” [3]
Imam Malik rahimahullah juga meriwayatkan,
أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ آنَ لَكُمْ
أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ، مَنْ أَصَابَ مِنْ
هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا، فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ
فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِي لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ
“Wahai para manusia, sungguh telah sampai waktunya kalian
untuk berhenti (melakukan pelanggaran terhadap) larangan-larangan Allah.
Barangsiapa terjerumus pada perbuatan kotor ini (zina) maka hendaknya dia
menutupinya dengan perlindungan Allah. Barangsiapa memberitahukan perbuatannya
kepada kami, maka akan kami tegakkan atasnya hukum Allah."[4]
Kesimpulan
Dari keterangan-keterangan di atas, maka langkah pertama
pertaubatan dari dosa zina ialah menyesal, kemudian berhenti dari perbuatan
zina tersebut, yaitu pertaubatan dengan sungguh-sungguh, mengiringi dengan amal
shalih, dan tidak menceritakan dosa zina kepada siapapun sampai mati, mengingat
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا
الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ
عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ
عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ
يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
"Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang
menampak-nampakkan (dosa) dan sesungguhnya diantara menampak-nampakkan (dosa)
adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Allah telah
menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata: 'Wahai fulan semalam aku telah
melakukan ini dan itu', padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi
oleh Rabbnya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh
Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh
Allah'." (HR. Bukhari no. 6069 & Muslim no. 2990)
Referensi:
[1] Ismail bin Umar Ibnu Katsir (w: 774 H). Tafsir Al Quran
Al Adzim. Dar Thaibah. Cetakan 2 1420 H/1999 M. 7/106.
[2] Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al Atsqalani (w: 852 H). Fathul
Bari Syarah Sahih Al Bukhari. Darul Ma’rifah - Beirut 1379 H. 12/214.
[3] Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al Atsqalani (w: 852 H). Fathul
Bari Syarah Sahih Al Bukhari. Darul Ma’rifah Beirut 1379 H. 12/125.
[4] Malik bin Anas. Al Muwatha. Dar Ihya’ At Turats Al
Arabiyah – Beirut – Lebanon. 1402 H/1985 M. 2/825.
Diterjemahkan & disusun di:
Singosari, Malang, Jawa timur, Indonesia
Ahad 22 Dzulhijjah 1442 H (1 Agustus 2021 M)
Oleh: Ust. Ery Santika Adirasa. S.ST.
Editor: Iskandar Alukal, B.A., M.A.

Komentar
Posting Komentar